Penulis artikel motivasi dan inspirasi

Reuni Akbar, Jutaan Bendera Tauhid Berkibar
Oleh: Abdullah Makhrus

Perjalanan saya ke Jakarta menghadiri aksi reuni mujahid 212(sebutan pengganti alumni 212) adalah perjalanan yang menarik sekaligus sangat mengesankan.

Sabtu, 1 Desmber 2018 sebelum berangkat menuju Stasiun Pasar Turi hujan deras membasahi area perumahan saya. Namun, Alhamdulillah jelang lima menit sebelum berangkat hujan tiba-tiba reda. Akhirnya saya bisa berangkat ke stasiun dengan lancar.

Setiba di Stasiun Pasar Turi ternyata bertemu guru penemu salah satu metode membaca Qur'an yang dikenal dengan sebutan metode Tadjid yaitu ustadz Jufri. Eh, ternyata beliau juga ikut berangkat menuju acara Reuni di Monas dan satu gerbong dengan saya.

Beberapa orang dalam satu gerbong ternyata juga memiliki tujuan yang sama. Akhirnya keretapun berangkat pukul 20.00. Sebelum sampai di Stasiun Gambir tepatnya sebelum stasiun Jatinegara kondektur telah mengingatkan bahwa Jalan akses menuju ke Monas telah penuh.

Penumpang diminta turun di Jatinegara jika ada rencana melanjutkan perjalanan lain. Karena akan dikhawatirkan kendaraan apapun setelah keluar dari Gambir tidak bisa berjalan karena ada acara reuni212. Namun, kondektur juga menyampaikan bahwa kereta tetap turun di Gambir hanya saja agak terlambat sekitar 15 menit dari jadwal tepatnya Ahad 2 Desember 2018 pukul 05.15.

Setelah keluar dari Stasiun Gambir, lapangan Monas sudah penuh dengan jutaan lautan manusia. Mereka dengan bangganya membawa Bendera/Panji Rasulullah bernama Al Liwa dan  Ar Rayah, topi ataupun atribut lain yang bertuliskan kalimat Lailaha Illallah. Kalimat ini adalah kalimat yang paling dibanggakan oleh seluruh peserta Reuni Akbar.

Menurut informasi panitia jumlah peserta alumni mujahid 212 melebihi kegiatan semula yang pernah terjadi di tahun 2016.

Waktu telah menunjukkan pukul 08.45 namun tak seperti biasanya. Jika di Sidoarjo pada waktu ini panasnya begitu menyengat, tapi tidak dengan suasana Monas pagi ini. Suasana cerah disertai mendung menyelimuti awan Jakarta.

Rupanya awan mendung menutupi panasnya terik mentari yang biasanya memanasi suasana Jakarta pagi ini. Sehingga semua peserta nampak nyaman dan tenang di tengah jutaan lautan manusia yang tumpah ruah di area Monas.

Di setiap sesi pembicara, tiba-tiba secara beruntun bendera Rasulullah berukuran besar bertuliskan kalimat Laa Ilaha Illallah berjalan memutari area Monas dan digerakkan secara berantai diatas kepala para peserta seraya mengucapkan kalimat tahlil.

Umat rupanya sekali lagi begitu bangga dengan bendera tauhid, bendera yang menyatukan umat meski berbeda suku, madzhab, ormas dan organisasi apapun. Itulah bendera Tauhid, bendera Rasulullah bernama Liwa dan Rayah.


Beberapa kali saya menemukan ada beberapa ibu yang memakai kursi roda didorong oleh relawan menuju area panggung karena ingin mendengar tausiah ustadz-ustadz selaku pembicara.

Termasuk ada juga wanita yang memakai tongkat untuk berjalan  karena satu kakinya tidak ada. Ia berjuang memasuki area Monas yang penuh sesak dengan lautan manusia. Tak kalah semangat sekitar 40an anak-anak kecil laskar penghafal Al Qur'an beserta ustadz/ustadzah dari Tasikmalaya hadir mengikuti aksi ini.

Di tengah kerumunan jutaan manusia, sulit sekali menemukan sahabat-sahabat seperjuangan yang telah berangkat lebih awal. Mereka yang sama-sama membela Tauhid. Bersatu bercampur baur dengan jutaan umat muslim lainnya.

Inilah semangat persatuan umat yang tidak bisa dibendung, dihadang dan dilarang karena kecintaan mereka pada bendera Tauhid. Bendera pemersatu umat. Bendera Al Liwa dan Ar Rayah.

Hari ini membuktikan bahwa satu bendera tauhid yang dibakar, maka Allah tunjukkan persatuan umat dengan jutaan bendera tauhid berkibar dan pekikan takbir menggelegar. Allahu Akbar.!!!


#ReuniAkbar212
#BelaTauhid212
#Spirit212


Ditulis di dalam kereta Gumarang dari Stasiun Pasar Senen menuju Surabaya. Ahad, 2 Desember 2018

*) Abdullah Makhrus adalah penulis artikel motivasi dan inspirasi.

IG:abdullahmakhrus
Telegram:@ceritamotivasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar











.





.

.














Tampil di blog ini