TATA CAHAYA dalam Seni Pemeranan / Teater

TATA CAHAYA
Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam
pertunjukan teater. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan
dapat menyaksikan apa-apa. Dalam pertunjukan era primitif manusia
hanya menggunakan cahaya matahari, bulan atau api untuk menerangi.
Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi
dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi
panggung pementasan. Seorang penata cahaya perlu mempelajari
pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya.
Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan
dalam pelanataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan.


3.1 Fungsi Tata Cahaya
Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua
objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara, aktor,
dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Semua objek
yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang
segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. Dengan cahaya, sutradara
dapat menghadirkan ilusi imajinatif. Banyak hal yang bisa dikerjakan
bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada
empat, yaitu penerangan, dimensi, pemilihan, dan atmosfir (Mark
Carpenter, 1988).

􀁸 Penerangan. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya.
Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek
yang ada di atas panggung. Istilah penerangan dalam tata
cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang
sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian
tertentu dengan intensitas tertentu. Tidak semua area di atas
panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur
dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan
pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas
pentas.

􀁸 Dimensi. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat
dicitrakan. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi
gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu
perspektif tata panggung. Jika semua objek diterangi dengan
intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap
oleh mata penonton menjadi datar. Dengan pengaturan tingkat
intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi
objek akan muncul.

􀁸 Pemilihan. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk
menentukan objek dan area yang hendak disinari. Jika dalam
film dan televisi sutradara dapat memilih adegan
menggunakan kamera maka sutradara panggung
melakukannya dengan cahaya. Dalam teater, penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung, untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu
sutradara memanfaatkan cahaya. Pemilihan ini tidak hanya
berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para
aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang
dihadirkan.

􀁸 Atmosfir. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah
kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi
emosi penonton. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan
suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon.
Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang
dikehendaki oleh lakon. Sejak ditemukannya teknologi
pencahayaan panggung, efek lampu dapat diciptakan untuk
menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu
tertentu. Misalnya, warna cahaya matahari pagi berbeda
dengan siang hari. Sinar mentari pagi membawa kehangatan
sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. Inilah
gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh
tata cahaya.

Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. Artinya,
masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). Fungsi
penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan
gambaran dimensional objek, suasana, dan emosi peristiwa. Gambar
203 memperlihatkan interaksi fungsi pokok tata cahaya.


Selain keempat fungsi pokok di atas, tata cahaya memiliki fungsi
pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing
ahli tata cahaya. Beberapa fungsi pendukung yang dapat ditemukan
dalam tata cahaya adalah sebagai berikut.

􀁸 Gerak. Tata cahaya tidaklah statis. Sepanjang pementasan,
cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area
lain, dari objek satu ke objek lain. Gerak perpindahan cahaya
ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari
oleh penonton dan kadang tidak. Jika perpindahan cahaya
bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang
berbeda, penonton dapat melihatnya dengan jelas. Tetapi
pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah
berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. Tanpa
sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda
melalui perubahan cahaya.

􀁸 Gaya. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang
sedang dilakonkan. Gaya realis atau naturalis yang
mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya
mengikuti cahaya alami seperti matahari, bulan atau lampu
meja. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk
menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari.
Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya
membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap
gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas
oleh penonton.

􀁸 Komposisi. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan
lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya.

􀁸 Penekanan. Tata cahaya dapat memberikan penekanan
tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. Penggunaan
warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton
sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan.
Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari
cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian
penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat
penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut.
􀁸 Pemberian tanda. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda
selama pertunjukan berlangsung. Misalnya, fade out untuk
mengakhiri sebuah adegan, fade in untuk memulai adegan
dan black out sebagai akhir dari cerita. Dalam pementasan
teater tradisional, black out biasanya digunakan sebagai tanda
ganti adegan diiringi dengan pergantian set.

3.2 Peralatan Tata Cahaya
Kerja tata cahaya adalah kerja pengaturan sinar di atas pentas.
Kecakapan dalam mendisitribusi cahaya ke atas pentas sangat
dibutuhkan. Dengan peralatan tata cahaya, kontrol atau kendali atas
distribusi cahaya itu dikerjakan. Penata cahaya perlu mengendalikan
intensitas, warna, arah, bentuk, ukuran, dan kualitas cahaya serta gerak
arus cahaya. Semua kendali itu bisa dimungkinkan karena adanya
peralatan tata cahaya yang memang dirancang untuk tujuan tersebut.
Penguasaan peralatan wajib dipelajari oleh penata cahaya.

3.2.1 Bohlam
Bohlam (bulb, lamp) adalah sumber cahaya. Bagian-bagian dari
bohlam terdiri atas envelope, filament, dan base (Gb.204). Envelope
adalah cangkang yang terbuat dari gelas kaca atau kwarsa untuk
melindungi komponen dari udara dan mencegahnya dari kebakaran.

Filament merupakan komponen yang mengubah panas listrik menjadi
cahaya. Ukuran dan bentuknya bermacam-macam disesuaikan dengan
ketahanan panas dan hasil cahaya yang dinginkan. Karena filament
menghasilkan cahaya dari panas maka ia juga menjadi lemah karena
panas sehingga mudah rusak. Oleh karena itu pemasangan dan pelepasan bohlam hendaknya dilakukan dengan hati-hati apalagi ketika
kondisinya sedang menyala. Base, adalah dasaran untuk meletakkan
bohlam pada dudukan yang sesuai dan merupakan komponen yang
menghubungkan filament dengan arus listrik. Jenis dan bentuk base
berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan dudukan yang disediakan pada
masing-masing jenis dan merk lampu dari pabrikan tertentu.
Aneka bentuk bohlam

Gambar di atas memperlihatkan aneka ragam bentuk bohlam.
Hampir semua bohlam dibuat terpisah dengan reflektornya tetapi pada
lampu PAR bohlam dibuat satu unit dengan reflektor dan lensa sehingga
jika bohlam mati maka semua unit komponennya harus diganti. Pada
dasarnya jenis bohlam lampu panggung ada tiga yaitu; tungsten,
tungsten-halogen, dan discharge. Tungsten digunakan untuk lampu di
bawah 1000 watt. Tungsten-halogen untuk lampu 1000 watt ke atas.
Sedangkan discharge adalah lampu yang hanya bisa dioperasikan
secara manual seperti lampu followspot. Penggunaan jenis bohlam ini
didasari pada ketahanan material menahan panas tinggi dalam kurun
waktu yang lama. Karena bekerja dengan panas, maka kualitas bohlam
menurun seiring penggunaan waktu dan batas waktu hidupnya (lifetime)
telah ditentukan (terbatas).

3.2.2 Reflektor dan Refleksi
Untuk memancarkan cahaya dari bohlam ke objek yang disinari
dibutuhkan reflektor. Cahaya yang hanya berasal dari bohlam sinarnya
kurang kuat dan tidak terarah pancarannya. Dengan reflektor maka pancaran cahaya yang berasal dari bohlam dapat ditingkatkan, diatur,
dan diarahkan. Lampu panggung menggunakan tiga jenis reflektor yaitu;
ellipsoidal, spherical, dan parabolic.

Reflektor ellipsoidal berbentuk lengkungan setengah elips
(lonjong) yang mengelilingi lampu sehingga mencipatkan efek pancaran
tiga dimensi. Jarak masing-masing sisinya terhadap sumber cahaya
tetap. Karena bentuknya tersebut cahaya yang dihasilkan oleh reflektor
ellipsoidal memiliki dua focal point (tittik temu fokus cahaya). Focal point
1 berasal dari titik fokus sumber cahaya (bohlam) kemudian memantul
kembali ke reflektor yang hasil refleksinya membentuk titik focal point 2
baru kemudian menyebar.

Reflektor spherical memiliki bentuk sisi yang membulat. Jenis
reflektor ini memancarkan seluruh cahaya langsung dari titik focal point
ke reflektor yang merefleksikannya kembali melalui focal point tersebut
sebelum memencar. Jika dibuat garis lingkaran imajiner maka panjang
cahaya yang ditempuh masing-masing garis cahaya adalah sama.
Gambar 207 memperlihatkan refleksi cahaya melalui reflektor spherical.

Reflektor parabolic memiliki bentuk sisi parabola. Reflektor jenis
ini merefleksikan cahaya langsung dari atau melalui focal point kemudian
menyebar secara paralel membentuk cahaya yang diameternya hampir
sama dengan diameter reflektor (Gb.208). Dengan demikian, diameter
cahaya yang dihasilkan sangat tergantung dengan diameter reflektor.
Contoh lampu sehari-hari yang menggu-nakan reflektor parabolic adalah
lampu senter.

Selain refleksi yang dihasilkan melalui reflektor, cahaya juga akan
mengalami refleksi setelah menyentuh objek penyinaran. Refleksi cahaya
yang memantul setelah mengenai objek dapat dibedakan menjadi empat
jenis, yaitu specular, diffuse, spread, dan mixed. Refleksi specular
(seperti cermin) memantulkan arah cahaya tanpa mengubah besaran
cahaya alami dari sumbernya.

Refleksi diffuse terjadi ketika cahaya yang mengenai permukaan objek
memantul dengan pendar yang merata ke segala arah (Gb.210). Contoh
dari refleksi diffuse adalah ketika cahaya diarahkan ke sebuah lukisan
dua dimensi.

Refleksi spread sama seperti refleksi diffuse tetapi persentase masingmasing
garis cahaya tidak sama. Cahaya yang mengenai objek dengan
intensitas lebih tinggi garis cahayanya akan memendar dan direfleksikan
lebih panjang dari yang lain (Gb.211). Contoh refleksi spread adalah
ketika cahaya mengenai gumpalan aluminium foil.

Refleksi mixed, merupakan refleksi campuran dari diffuse dan specular.
Beberapa garis cahaya dipendarkan secara merata ke segala penjuru
arah tetapi sebagian garis cahaya dipantulkan seperti cermin (Gb.212).
Contoh refleksi mixed adalah ketika cahaya menyinari gagang pintu dari
logam, jam tangan emas, atau lantai kayu yang mengkilat.

3.2.3 Lensa
Cahaya memerlukan pembiasan atau pembelokan sehingga
besar kecilnya ukuran cahaya bisa diatur. Alat yang digunakan untuk
membiaskan cahaya adalah lensa yang terbuat dari gelas kaca atau
semacam plastik. Ada tiga jenis lensa yang digunakan dalam lampu
panggung, yaitu lensa plano convex, fresnel, dan pebble convex. Lensa
plano concex sisi luarnya berbentuk cembung (kurva) dan memiliki
permukaan yang halus (Gb.213). Lensa yang biasa disebut sebagai PC
ini digunakan untuk membentuk lingkaran cahaya yang garis tepinya jelas
kelihatan (hard edge). Ukuran dan ketebalan lensa sangat tergantung
dari ukuran dan intensitas hasil cahaya yang dikehendaki.

Lensa fresnel adalah lensa yang permukaannya membentuk
cetakan bergerigi (Gb.214). Lampu yang menggunakan lensa ini akan
menghasilkan lingkaran cahaya yang garis tepinya lembut (soft edge).
Ketebalan lensa fresnel lebih tipis dari lensa PC. Garis lembut lingkaran
cahaya yang dihasilkan memungkinkan untuk pencampuran warna pada
area penyinaran. Sedangkan lensa pebble convex memiliki permukaan
luar sama dengan lensa PC tetapi sisi dalamnya bergerigi seperti fresnel
(Gb.215). Lensa ini sering juga disebut sebagai step lens.

3.2.4 Lampu
Istilah lampu yang digunakan di sini tidak mengacu pada kata
lamp tetapi lantern. Kata lamp diartikan sebagai bohlam dan lantern
sebagai lampu dan seluruh perlengkapannya termasuk di dalamnya
bohlam. Istilah lantern digunakan sebagai pembeda antara lampu
panggung terhadap lampu rumahan. Dalam lampu panggung ada
terdapat banyak jenis lampu. Akan tetapi, secara mendasar dikategorikan
ke dalam dua jenis, yaitu flood dan spot. Flood memiliki cahaya dengan
sinar yang menyebar sedangkan spot memiliki sinar yang menyorot
terarah. Semua lampu memiliki keistimewaan tersendiri dalam
menghasilkan cahaya. Perkembangan teknologi lampu panggung
terkadang menghasilkan sesuatu yang baru dengan mengkombinasikan
prinsip dan unsur yang ada di dalamnya. Tugas utama dari lampu
panggung adalah menghadirkan cahaya, warna, dan bentuk yang dapat
disesuaikan dan diarahkan menurut kebutuhan.

3.2.4.1 Floodlight

Selengkapnya TATA CAHAYA dalam Seni Pemeranan / Teater
 
3.2.4.2 Scoop
Lampu scoop adalah lampu flood yang menggunakan reflektor
ellipsoidal dan dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan. Sinar
cahaya yang dihasilkan memancar secara merata dengan lembut
(Gb.219). Lampu scoop ada beberapa jenis yang dirancang khusus untuk
bohlam tertentu. Ada yang menggunakan bohlam pijar biasa ada yang
menggunakan bohlam tungsten. Tetapi secara umum, scoop dapat
menggunakan bohlam pijar dan tungsten-halogen. Lampu ini sangat
efisien untuk menerangi areal tertentu yang terbatas. Karakter cahayanya
yang lembut membuat lampu scoop sangat ideal untuk memadukan
warna cahaya. Selain digunakan untuk panggung teater dan teater
boneka, scoop juga digunakan untuk televisi, studio photografi, dan
gedung yang membutuhkan penerangan khusus seperti museum.

3.2.4.3 Fresnel
Fresnel merupakan lampu spot yang memiliki garis batas sinar
cahaya yang lembut. Lampu ini menggunakan reflektor spherical dan
lensa fresnel (Gb.220). Karena karakter lensa fresnel yang bergerigi pada
sisi luarnya maka bagian tengah lingkaran cahaya yang dihasilkan lebih
terang dan meredup ke arah garis tepi cahaya. Pengaturan ukuran sinar
cahaya dilakukan dengan menggerakkan bohlam dan reflektor mendekati
lensa. Semakin dekat bohlam dan reflektor ke lensa maka lingkaran sinar
cahaya yang dihasilkan semakin besar. Sifat lingkaran cahaya yang
lembut memungkinkan dua atau lebih lampu fresnel memadukan warna
cahaya pada objek atau area yang disinari. Kekurangan dari lampu
fresnel adalah intensitas cahaya tertinggi ada pada pusat lingkaran
cahaya sehingga jika seorang aktor berdiri agak jauk dari pusat lingkaran
cahaya maka ia kurang mendapat cukup cahaya.
Lampu fresnel dibuat dengan berbagai macam variasi ukuran
lensa dan kekuatan (daya) seperti yang terlihat dalam gambar 221.
Ukuran lensa dan kekuatan daya mempengaruhi hasil pencahayaan.

Diameter lensa dan daya yang kecil menghasilkan jarak penyinaran yang
tidak jauh. Artinya, ia tidak bisa menyinari objek yang jauh. Setiap lampu
memiliki jarak cahaya minimum dan maksimum. Jika pengaturan lampu
melebihi jarak yang ditetapkan maka cahaya yang dihasilkan menjadi
tidak fokus (buram) atau terlalu terang.

Selain itu, karena sifatnya yang sedikit menyebar maka jika jarak lampu
terlalu jauh dari objek sebaran cahayanya akan menerobos ke objek lain.
Karena sifatnya ini, lampu fresnel tidak tepat jika dipasang di baris depan
panggung proscenium (apron) karena sebaran cahayanya bisa
menerangi bingkai panggung. Fresnel lebih efektif di pasang untuk
menyinari panggung tengah.

3.2.4.4 Profile
Lampu profile termasuk lampu spot yang menggunakan lensa
plano convex sehingga lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan memiliki
garis tepi yang tegas. Dengan mengatur posisi lensa, maka lingkaran
sinar cahaya bisa disesuaikan. Jika lampu profile dalam keadaan fokus
maka batas lingkaran cahaya akan jelas terlihat dan jika tidak fokus batas
lingkaran cahayanya akan mengabur meskipun tidak selembut lampu
fresnel. Lampu profile digunakan karena besaran lingkaran cahaya dan
derajat penyinarannya bisa diatur sedemikian rupa. Selain bentuk sinar
cahaya yang melingkar lampu profile dapat membentuk cahaya secara
fleksibel dengan bantuan shutter. Shutter atau penutup cahaya ini
terpasang di empat sisi (atas, bawah, kanan, dan kiri). Dengan mengatur
posisi shutter ini maka bentuk cahaya yang dinginkan dapat dikreasikan.
Di Amerika lampu ini disebut ERS (Ellipsoidal Relfector Spotlight)
atau lampu spot yang menggunakan relfektor ellipsoidal. Dapat juga
disebut lekolite atau leko (di Indonesia sering disebut lampu elips atau
profil). Lampu ERS generasi pertama menempatkan bohlam 45 derajat
dari garis axis (poros bumi), reflektor, dan posisi lensa (Gb.222). Lampu
ini disebut ERS radial. Lampu ERS modern menempatkan bohlam sejajar
dengan axis dan sistem optik. Lampu ini disebut ERS Axial (Gb.223). Jika
penempatan bohlam tidak sejajar atau presisi antara focal point dan
reflektor maka efisiensi dan keserasian cahayanya akan terganggu.

Berbagai bentuk dan ukuran lampu profil dibuat untuk
kepentingan pencahaayan panggung (Gb.224). Namun lampu profil atau
ERS ini pada dasarnya hanya memiliki tiga jenis lampu, yaitu standard,
bifocal, dan zoom. Lampu standar menggunakan satu lensa. Pengaturan
fokusnya dengan mendekatkan lensa ke bohlam. Untuk mengatur bentuk
cahaya terdapat shutter yang dapat mengatur bentuk cahaya secara
fleksibel. Di depan shutter ada slot untuk iris yang dapat mengatur
cahaya berbentuk melingkar. Slot untuk iris ini juga dapat digunakan
untuk menempatkan gobo (plat metal bermotif yang dapat meproyeksikan
cahaya sesuai gambar motif yang ada).

Lampu bifocal adalah lampu profil standar yang ditambahi dengan
shutter tambahan. Shutter tambahan ini diletakkan di luar fokus sehingga
lampu dapat menghasilkan lingkaran cahaya yang tegas dan lembut
sekaligus. Seiring perkembangan, lampu bifocal sudah tidak diterbitkan
lagi. Sedangkan lampu zoom menggunakan dua lensa plano convex
yang dipasang secara berhadapan (belly to belly). Lensa yang pertama
mengatur fokus (seperti pada lampu profil standar) dan lensa yang kedua
untuk mengatur ukuran lingkar sinar cahaya (GB.225). Kombinasi lensa
yang dilakukan pada lampu standard dan bifocal dapat mengubah ukuran
lingkaran sinar cahaya tetapi bagaimanapun juga kemungkinannya
terbatas.

Dengan lampu zoom ukuran lingkaran sinar cahaya dapat diatur pada
sebarang titik (nilai) antara minimal dan maksimal hanya dengan
menggeser tombol atau pegangan (knob) yang telah disediakan.

Pada jenis standar dan bifocal hal ini harus dilakukan dengan mengganti
atau mengkombinasi lensa yang membutuhkan beberapa peralatan
tambahan serta memerlukan waktu pemasangan tersendiri. Dengan
demikian penggunaan lampu ERS (profile zoom) sangatlah efektif.

3.2.4.5 Pebble Convex
Struktur lampu ini sama dengan fresnel yaitu menggunakan
reflektor spherical. Yang membedakan adalah digunakannya lensa
pebble convex. Pada mulanya, terdapat pula lampu semacam ini dengan
menggunakan lensa plano convex dan sering disebut dengan lampu PC.
Lampu PC (plano convex) tidak lagi diproduksi di Amerika dan yang
sampai sekarang masih digunakan (terutama di Eropa) adalah lampu
pebble convex atau prism convex (Gb.227). Untuk mengatur ukuran
lingkaran sinar cahaya lampu dan reflektor didekatkan ke lensa. Karena
menggunakan lensa pebble convex maka garis sinar cahaya yang
dihasilkan berada di antara fresnel yang berkarakter lembut dan profile
yang berkarakter tegas. Lampu ini sangat bermanfaat ketika garis sinar cahaya yang tegas tidak diperlukan sementara garis sinar cahaya yang
lembut terlalu kabur.

3.2.4.6 Follow Spot
Lampu follow spot sering juga disebut lime adalah lampu yang
dapat dikendalikan secara langsung oleh operator untuk mengikuti gerak
laku aktor di atas panggung.

Karena dikendalikan secara manual maka lampu ini memiliki
struktur yang kuat baik secara optik maupun mekanik. Keseimbangan
diatur sedemikian rupa sehingga gerak ke atas dan ke bawah, ke kanan
dan kekiri dapat mengalir dengan baik. Pengaturan besar kecilnya ukuran
lingkaran sinar cahaya, fokus, dan warna diatur oleh pengendali. Untuk
menempatkan lampu ini diperlukan dudukan (stand) khusus yang dapat
diputar dan diatur tinggi rendahnya. Untuk lampu yang berukuran besar,
stand yang digunakan biasanya memiliki roda sehingga memudahkan
dalam memindahkan lampu dari tempat satu ke tampat lain.
Lampu follow spot menggunakan bohlam jenis discharge yang
kuat menahan panas tinggi serta mampu menahan goncangan dan dapat
menghasilkan intensitas cahaya yang tinggi. Penggunaan bohlam
discharge tidak memungkinkan lampu dikontrol secara elektrik karena
sifatnya hanya on-off dan tidak bisa diredupkan dengan dimmer. Garis
lingkaran sinar cahaya sangatlah jelas terlihat. Lampu ini biasanya
mengikuti atau menyorot seorang aktor secara khusus dalam areal yang
khusus.

3.2.4.7 PAR
PAR atau dapat juga ditulis dengan par adalah lampu yang
bohlam, reflektor, dan lensanya terintegrasi. Par merupakan singkatan
dari parabolic aluminized reflector. Dengan demikian unit lampu par
menggunakan lensa parabolik. Karena lampu par adalah berbentuk satu
kesatuan (unit) maka ukuran sinar cahayanya tidak dapat disesuaikan
kecuali dengan mengganti lampunya. Ukuran diameter dan watt lampu
par bermacam-macam. Yang umum digunakan adalah par 36, 38, 46, 56,
dan 64.

Daya yang digunakan berkisar antara 50 sampai dengan 1000
watt. Untuk mengukur diameter lampu par sangatlah mudah yaitu dengan
membagi nomor par dengan 8 inchi. Misalnya, lampu par 56 memiliki diameter 7 inchi (56:8 = 7). Besaran sinar cahaya yang dihasilkan sangat
tergantung dari ukuran diameter lampunya. Sedangkan intensitas dan
jarak cahaya tergantung dari besaran dayanya. Meskipun lampu par
memungkinkan penggunaan bohlam jenis discharge tetapi umumnya
untuk keperluan panggung bohlam yang digunakan berjenis tungsten
halogen.
Lampu par ditempatkan dalam wadah (housing) yang disebut par
can atau kaleng par yang memungkinkan lampu untuk digerakkan,
diarahkan, dan diberi warna. Ukuran wadah menyesuaikan dengan
ukuran lampu yang dipasang di dalamnya (Gb.230). Sinar cahaya yang
dihasilkan berkarakter lembut dan lebih berbentuk oval ketimbang circular
(melingkar). Untuk mengetahui jenis karakter serta bentuk sinar yang
dihasilkan maka lampu par menyediakan berbagai macam variasi dengan
mengkombinasikan bentuk lensa yang digunakan. Misalnya, lampu par
64 menyediakan berbagai macam variasi yang bisa dipilih, yaitu VNSP,
NSP, MFL, WFL. VSP atau Very Narrow Spot adalah lampu par yang
mampu menghasilkan titik sinar yang sangat sempit. NSP (Narrow Spot)
menghasilkan sinar yang sempit. MFL (Medium Flood) menghasilkan
karakter sinar flood menengah. WFL (Wide Flood) menghasilkan karakter
sinar flood yang melebar.

Par merupakan lampu yang efektif dalam menghasilkan sinar.
Lampu ini sering digunakan dalam pentas pertunjukan musik indoor
maupun outdoor dan mampu menghadirkan cahaya yang kuat. Karena
ukurannya telah tertentu maka pemilihan lampu par sangat tergantung
dari luas dan jarak area yang akan disinari.

3.2.4.8 Efek
Lampu efek adalah lampu yang menghadirkan cahaya khusus
untuk kepentingan tertentu. Misalnya dalam sebuah pertunjukan teater
menghendaki lukisan cahaya yang penuh fantasi maka digunakanlah
lampu efek yang dapat menciptakan lukisan cahaya tersebut. Terdapat
aneka macam lampu efek tetapi semua sangat tergantung kebutuhan dan
kepentingan artistik. Gambar 231 memperlihatkan beberapa lampu efek
yang sering digunakan di atas panggung.

3.2.4.9 Practical
Yang dimaksud dengan lampu practical adalah lampu yang
digunakan sehari-hari tetapi diperlukan dalam sebuah pementasan.
Misalnya lampu belajar, lampu gantung atau lampu hiasan dinding.
Dalam pertunjukan teater yang menghadirkan latar cerita realis yang
berdasar pada kenyataan, tata panggung dibuat menyerupai keadaan
sebenarnya. Jika dalam cerita menghendaki adanya lampu gantung di
satu rumah mewah maka lampu tersebut harus dihadirkan. Jika cerita
terjadi malam hari dan lampu tersebut harus dinyalakan maka lampu
gantung itupun dinyalakan. Karena keadaan di panggung berbeda
dengan kenyataan, maka tugas penata lampu adalah mengatur teknik
pencahayaan sehingga sumber cahaya seolah-olah hanya berasal dari
lampu gantung.

3.2.5 Perlengkapan Pemasangan
Untuk memasang lampu di atas pentas dibutuhkan berbagai
macam perlengkapan pemasangan. Perlengkapan tersebut ada yang
telah terpasang secara permanen dan ada yang dapat dipindahpindahkan.
Di bawah ini akan dijelaskan perlengkapan pemasangan
lampu yang terdiri dari bar dan boom, stand, serta clamp dan bracket.

3.2.5.1 Bar dan Boom
Perlengakapan pemasangan lampu harus dibuat dari bahan yang
kuat sehingga mampu menahan berat sejumlah lampu yang dipasang.
Dalam panggung biasanya terdapat baris untuk menggantungkan lampu
yang dibuat dari pipa besi dan di ataur secara horisontal dan vertikal.
Pipa besi yang dipasang secara horisontal ini disebut bar (di Amerika
disebut pipe), dan yang dipasang secara vertikal disebut boom. Bar
digunakan untuk menggantungkan lampu di atas panggung yang terdiri
dari beberapa baris mulai dari atas siklorama sampai ke baris depan di
atas penonton. Dalam panggung modern bar tidak dibuat statis
melainkan bisa diturunkan dan dinaikkan sehingga jarak dan sudut lampu
dapat disesusaikan dengan mudah. Berbeda dengan boom yang
dipasang di sayap panggung secara vertikal dan permanen. Fungsi boom
adalah untuk memasang lampu samping.

3.2.5.2. Stand
Perlengkapan untuk menggantungkan lampu yang bisa
berpindah-pindah adalah stand. Sebuah pipa yang terbuat dari logam
kuat yang dapat berdiri dengan tegak dan kuat menahan berat lampu
yang dipasang.

Stand yang khusus dipakai untuk lampu follow spot dibuat sedemikian
rupa sehingga lampu yang dipasang di atasnya bisa digerakkan ke
kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah secara manual. Tinggi rendah stand
dapat diatur.
Selain untuk follow spot yang bentuknya berdiri secara vertikal
ada juga stand yang di atasnya dipasangi bar yang dapat digunakan
untuk menggantung lampu. Stand jenis ini disebut T-bar stand. Dengan
stand jenis ini maka lampu dapat dipasang pada tiang vertikal ataupun
horisontal. Beberapa stand yang dibuat dari besi dan berukuran besar
menggunakan roda pada kaki-kakinya agar mudah dipindahkan. Stand
sangat bermanfaat ketika boom yang terpasang secara permanen kurang
memadahi atau jaraknya tidak tepat seperti yang dinginkan.

3.2.5.3 Clamp dan Bracket
Untuk menggantungkan lampu pada bar dibutuhkan klem (clamp)
sedangkan untuk menggantungkan lampu pada boom dibutuhkan siku
(bracket) yang disebut boom arm. Kelem yang umum digunakan
berbentuk leter “C” dan sering disebut dengan C-clamp atau hook clamp.
Untuk mengencangkan atau mengunci kelem ke bar digunakan sekrup.
Bentuk dan ukuran hook clamp ini bervariasi tetapi fungsinya sama saja
(Gb.31). Boom arm dipasang pada boom atau batang stand vertikal.
Ujungnya digunakan untuk memasang lampu.

Untuk mengencangkan dan mengendorkan menggunakan skrup. Pada
boom arm generasi lama menggunakan dua plat besi yang berfungsi
untuk menggapit boom dan menggunakan dua buah sekrup untuk
mengencangkannya. Hasilnya memang plat akan terkait dengan kuat
pada boom tetapi sulit ketika hendak mengatur atau menggeser
posisinya. Boom arm yang baru, menggunakan hook clamp dengan satu
skrup untuk mengkait boom sehingga lebih mudah dalam penyesuaian.

3.2.6 Asesoris
Cahaya yang dihasilkan dari lampu dapat diatur sedemikian rupa.
Selain karena faktor reflektor, bohlam, dan lensa pengaturan cahaya
dapat diperkaya dengan menambah asesoris. Di bawah ini dijelaskan
asesoris yang dapat dipergunakan untuk memperkaya pencahayaan.

3.2.6.1 Filter
Filter atau color adalah plastik warna yang digunakan untuk
memberi warna pada cahaya (Gb.236). Filter adalah asesori yang paling
penting untuk mengubah warna natural cahaya yang dihasilkan lampu
sesuai keinginan dengan cara memasang filter di depan perangkat. Filter
biasanya berbentuk lembaran. Jika hendak digunakan maka harus
dipotong sesuai dengan ukuran.

Untuk meletakkan filter warna ke dalam lampu diperlukan bingkai khusus
yang disebut filter frame atau color frame. Ukuran bingkai ini bervariasi
sesuai dengan ukuran jenis lampu. Jadi masing-masing merek dan jenis
lampu memiliki bingkai filter tersendiri.

3.2.6.2 Barndoor
Barndoor adalah sebuah alat yang memiliki sirip atau penutup
yang dapat diatur dan disesuaikan (Gb.238). Barndoor digunakan untuk
mengatur pendaran cahaya dalam artian mencegah cahaya bocor ke
areal yang tidak dinginkan.

Barndoor memiliki empat sisi penutup yang dapat diputar dan
disesuaikan posisinya pada dudukan. Biasanya barndoor dipasang pada
lampu yang menghasilkan cahaya menyebar seperti par atau fresnel
pada panggung yang berukuran kecil. Panggung kecil memiliki areal yang
terbatas sehingga penyinaran yang dilakukan dengan menggunakan
lampu berkekuatan besar menghasilkan cahaya melebihi area
penyinaran. Untuk membatasi aliran cahaya tersebut barndoor sangat
efektif difungsikan.

3.2.6.3 Iris
Iris adalah piranti untuk memperbesar atau memperkecil diameter
lingkaran sinar cahaya yang dihasilkan oleh lampu. Dengan sebuah
gagang kecil yang tersedia, ukuran lingkaran bisa disesuaikan.

Piranti yang terbuat dari metal ini sangat mudah untuk dipasang dan
dicopot. Dipasang di depan shutter. Iris biasanya dipasang pada lampu
profile (ERS). Dengan bantuan iris, seorang penata lampu dapat
menyesuaikan ukuran lingkar area penyinaran yang tepat sehingga aliran
cahaya tidak bocor ke area lain.

3.2.6.4 Donut
Donut (donat) adalah pelat metal yang digunakan untuk
meningkatkan ketazaman lingkar sinar cahaya yang dihasilkan oleh
lampu spot (Gb.240). Donat juga membantu memperjelas pola atau motif
gambar cahaya yang hendak dihasilkan dengan menghilangkan pendar
cahaya yang tidak diperlukan. Garis cahaya semakin jelas dan bentuk
sinar cahaya benar-benar sirkuler.


3.2.6.5 Gobo
Gobo adalah pelat metal yang dicetak membentuk pola atau motif
tertentu (Gb.241). Jika pelat ini dipasang pada lampu dan diproyeksikan
maka cahaya akan membentuk pola seperti yang tergambar pada gobo
tersebut. Untuk memasang gobo diperlukan bingkai atau tempat khusus
yang disebut gobo holder.

Motif atau pola gambar pada gobo bermacam-macam. Piranti ini
digunakan untuk memproyeksikan pola cahaya tertentu yang
menimbulkan efek imajinasi darimana asal cahaya atau karena apa
cahaya itu terbentuk. Misalnya pola dalam gambar 241 di atas jika
disorotkan ke panggung maka akan memberikan imajinasi, bahwa
cahaya tersebut berasal dari sebuah jendela. Pada pola tertentu lainnya
jika diproyeksikan ke siklorama akan memberikan efek imajinasi yang
mengagumkan, seperti awan berserakan, daun-daun, pepohonan,
gambar bangunan, dan lain sebagainya. Penggunaan gobo sangat
membantu untuk memberikan efek atau lukisan cahaya.

3.2.6.6 Snoot
Snoot atau sering juga disebut top hat adalah piranti yang
digunakan untuk mengurangi tumpahan cahaya (Gb.243). Dengan
dipasang pada bagian depan lampu maka snoot akan memperpanjang
ukuran lampu dan mempersempit sudut sinar cahaya yang dihasilkan.

Snoot sangat efektif digunakan untuk panggung berukuran kecil dimana
sinar cahaya lampu seringkali melebar atau bocor ke area yang tidak
dinginkan.

3.2.7 Dimmer dan Kontrol
Untuk mengkontrol intensitas cahaya dan mengatur perubahan
cahaya dalam intensitas tertentu dibutuhkan alat yang disebut dimmer.
Secara sederhana sumber listrik dialirkan ke sebuah dimmer untuk
mengalirkan arus listrik ke lampu (Gb.244). Dimmer dapat mengubah
intensitas cahaya dari rendah ke tinggi atau sebaliknya dengan mengatur
panas (temperatur) yang mengalir ke filamen bohlam.

Untuk kepentingan panggung tidak mungkin menggunakan satu
dimmer untuk satu lampu. Hal ini akan memerlukan proses lama dalam
pemasangannya. Oleh karena itu dimmer untuk lampu panggung dibuat
satu unit yang dapat menampung banyak lampu dan disebut dengan
dimmer rack. Terdapat banyak jenis, ukuran dan kekuatan dimmer rack. Ada dimmer rack berukuran besar dan berat yang dipasang
secara permanen di dalam sebuah gedung pertunjukan tetapi ada juga
dimmer rack yang dirancang khusus untuk pentas keliling sehingga
mudah dibawa kemana-mana.

Dengan bantuan dimmer, operasional dan pengendalian
intensitas cahaya lampu menjadi mudah. Meskipun demikian dalam
sebuah dimmer rack yang memiliki banyak channel tidak menyediakan
tombol atau alat pengendali intensiatas yang mudah diakses. Dalam
dimmer generasi lama disediakan gagang pengendali intensitas, tetapi
hal ini membuat ukuran dimmer menjadi besar. Dimmer modern tidak
menyediakan pengendali tersebut selain sebuah tombol kecil pada
masing-masing channel. Untuk membantu tugas pengendalian intensitas
dibutuhkan remote control (pengendali jarak jauh). Kontrol jarak jauh ini
berupa papan atau meja yang menyediakan tombol atau bilah pengendali
intensitas atau lever yang dihubungkan ke dimmer. Jadi, ia mengambil
alih fungsi pengendali pada dimmer. Dengan demikian, rangkaian
sederhana jika digambarkan adalah sumber listrik menyediakan energi
yang dialirkan ke dimmer (power in) kemudian dialirkan keluar ke lampu
(circuit out) dan fungsi pengendali dialirkan ke remote control.

Remote control atau pengendali jarak jauh sering disebut dengan
control desk (meja pengendali) karena harus diletakkan di atas meja
untuk menggunakannya. Ukuran dan jenisnya bermacam-macam. Ada
yang dioperasikan secara manual ada juga yang sudah menggunakan
komputer sehingga bisa diprogram untuk mengendalikan intensitas
secara otomatis.

Dalam satu remote control terdapat bilah pengendali (lever) dan
master lever yang berfungsi sebagai pusat suplai besaran energi yang
dikeluarkan. Masing-masing lever memiliki ukuran atau besaran yang dapat dijadikan acuan untuk menaikkan atau menurunkan intensitas
cahaya (GB.248). Jika master lever diatur pada posisi 50 persen (angka
5) maka intensitas cahaya yang dapat dikeluarkan oleh masing-masing
lever maksimal hanya 50 persen. Jika master lever diatur pada posisi 0
maka lampu tidak akan menyala meskipun lever dinaikkan sampai 100
persen (angka 10).

 Dengan mengatur angka pada master dan lever maka akan
didapatkan intensitas cahaya yang dinginkan. Tabel di bawah ini dapat
digunakan sebagai patokan untuk mengatur intensitas cahaya.


Ukuran intensitas yang dihasilkan dalam tabel ini hanyalah ukuran untuk
satu atau beberapa lampu sejenis. Ukuran intensitas bisa berubah jika
lampu menggunakan filter warna. Warna-warna yang gelap akan
mengurangi intensitas cahaya yang dihasilkan. Dengan demikian,
pengaturan intensitas cahaya untuk menghasilkan keseimbangan perlu
memperhatikan jenis dan kekuatan lampu serta penggunaan filter warna.
Penjelasan di atas masih menyangkut remote control atau control
desk yang menggunakan satu set lever dan satu master. Jika jumlah
lampu yang digunakan sedikit tidaklah masalah tetapi lampu panggung
biasanya jumlahnya puluhan bahkan ratusan. Satu meja kontrol dengan
satu master dan satu set lever tidaklah cukup. Selain itu pemindahan
intensitas lampu satu ke lampu lain sangatlah rumit jika hanya
menggunakan satu set lever karena tangan pengendali harus menaikkan
atau menurunkan masing-masing lever dalam waktu yang hampir
bersamaan. Untuk mengatasi hal tersebut perangkat meja kontrol
biasanya memiliki dua master atau lebih, lengkap dengan lever-nya.
Dengan meja kontrol seperti ini, pengendalian lampu dapat dilakukan
melalui proses preset.

Preset adalah mengatur posisi lever pada angka (intensitas)
tertentu sementara master dalam keadaan 0. Sehingga ketika nanti
dibutuhkan tinggal menaikkan angka master. Lampu yang berada dalam
deret lever akan menyala dengan intensitas sesuai angka pada masingmasing
lever. Preset ini bisa dilakukan jika master dan baris (set) lever lebih dari satu. Dalam gambar di atas diperlihatkan dua set lever dan
master, bagian atas “A” dan bagian bawah “B”. Ketika bagian “A” sedang
dimainkan pada posisi tertentu, bagian “B” bisa digunakan untuk
mengatur preset. Dengan menurunkan master “B” pada angka 0 maka
lever dapat diatur pada angka tertentu sesuai kebutuhan. Hal ini tidak
akan menyebabkan lampu menyala karena level master diturunkan ke
angka 0. Ketika lampu pada deret lever “A” selesai dimainkan dan
hendak diganti, maka master “B” yang lever-nya telah dipreset dinaikkan
dan master “A” diturunkan ke angka 0. Ketika master “B” dimainkan maka
lever pada “A” dapat dipreset untuk pencahayaan berikutnya. Dengan
mengatur preset maka efisiensi pengendalian lampu dapat dioptimalkan.

3.3 Warna Cahaya
Setelah mengetahui secara teknis dasar pemasangan dan
pengoperasian lampu maka langkah berikutnya adalah mengenai warna
cahaya. Warna cahaya sangat berpengaruh pada suasana panggung.
Dalam pertunjukan teater realis yang meniru warna cahaya matahari
maka harus benar-benar dibedakan antara warna matahari di saat fajar,
pagi, siang, dan sore hari. Kesalahan pemilihan warna dapat berakibat
fatal berkaitan dengan latar waktu kejadian peristiwa. Misalnya, seorang
pemain mengucapkan kalimat, “Pada saat fajar menyingsing ini, aku
bulatkan tekadku!”, sementara warna cahaya yang ditampilkan adalah
putih terang. Hal ini akan menimbulkan keanehan karena matahari pada
fajar hari berwarna semburat kemerahan dan bukan putih terang.

Untuk menghindari hal tersebut perlu diteliti pemilihan warna cahaya
yang tepat sesuai dengan suasana yang dikehendaki. Warna dasar cahaya berbeda dengan warna dasar cat atau pewarna lain. Jika cat
memiliki warna dasar merah, kuning, dan biru maka cahaya memiliki
warna dasar merah, kuning, dan hijau (Gb.250). Warna sekunder yang
dihasilkannya pun berbeda. Merah dicampur hijau akan menghasilkan
warna kuning amber. Hijau bercampur biru menjadi biru cyan. Biru
bercampur merah menjadi magenta. Jika semua warna dicampur maka
akan berubah menjadi putih. Berbeda dengan cat, jika semua warna
dicampur akan menjadi coklat tua. Prinsip dasar warna cahaya ini perlu
diketahui untuk menghindari kesalah pemaduan warna.
3.3.1 Pencampuran Warna
Pencampuran warna cahaya dapat dilakukan dengan dua teknik,
yaitu additive mixing dan subtractive mixing. Pencampuran warna
additive adalah pecampuran warna dari dua lampu berwarna berbeda
dalam satu area.

Proses pencampuran warna ini sangat efektif terutama untuk jenis lampu
yang tidak memiliki garis lingkar cahaya yang tegas seperti lampu fresnel.
Pendar cahaya yang mengabur pada sisi luar lingkar cahaya akan saling
bertemu dan secara gradual membentuk warna kedua. Warna yang
efektif dicampur dalam teknik additive adalah warna-warna primer yang
akan menghasilkan warna sekunder (Gb.252).
Pencampuran warna menggunakan teknik subtractive adalah
mencampur warna dari satu sumber cahaya (lampu) melalui dua filter
warna yang berbeda (Gb.253.). Filter yang dipasang haruslah yang
mampu merefleksikan sebagian warna cahaya dan menyerap warna lain.

Dalam gambar di atas diperlihatkan, filter pertama yang dipasang
berwarna cyan yang merefleksikan warna biru dan hijau serta menyerap
warna merah sehingga menghasilkan warna cyan. Warna cyan ini
kemudian melalui filter berwarna kuning sehingga hasil akhirnya adalah
cahaya berwarna hijau.

Warna-warna primer kurang efektif digunakan untuk teknik subtractive
karena karakternya yang terlalu kuat menyerap cahaya. Warna-warna
sekunder lebih tepat untuk teknik subtractive (Gb.254). Teknik subtractive ini biasanya digunakan untuk lampu otomatis yang memiliki palet warna
yang dapat berputar sehingga memungkinkan dua warna bercampur.

3.3.2 Refleksi Warna Cahaya
Cahaya yang menyinari sebuah permukaan akan memantul atau
menimbulkan refleksi. Di atas telah dijelaskan jenis refleksi yang dapat
ditimbulkan oleh cahaya. Pada bahasan ini akan dijelaskan refleksi warna
yang ditimbulkan setelah cahaya menyinari sebuah permukaan. Jika
cahaya menyinari sebuah permukaan berwarna maka efek refleksinya
sama dengan warna yang ada pada permukaan tersebut. Warna cahaya
natural adalah putih atau biasa disebut netral. Jika warna cahaya netral
menyinari permukaan berwarna merah maka akan menimbulkan refleksi
cahaya berwarna merah.

Tetapi jika cahaya berwarna merah matang (setelah diberi filter warna)
menyinari permukaan berwarna biru pirmer, maka tidak cahaya yang
direfleksikan karena permukaan biru hanya akan merefleksikan cahaya
berwarna biru (GB.256).
Prinsipnya adalah menggunakan warna cahaya. Cahaya putih
atau netral menurut teori warna cahaya mengandung unsur warna merah,
biru, dan hijau. Jika cahaya putih menyinari permukaan biru maka akan
merfleksikan cahaya biru karena unsur warna merah dan hijau tidak
terdapat pada permukaan yang disinari.
Dengan memahami prinsip dasar warna cahaya maka refleksi
warna cahaya bisa diperhitungkan. Cahaya putih jika menyinari
permukaan kuning amber akan memancarkan cahaya kuning amber.

Warna cahaya kuning amber adalah perpaduan antara warna merah dan
hijau. Dengan demikian warna yang terpantulkan oleh cahaya adalah
warna merah dan hijau, sedangkan warna biru terserap.

Jika cahaya berwarna kuning amber yang merupakan perpaduan merah
dan hijau menyinari permukaan berwarna kuning amber maka refleksi
warna cahayanya adalah kuning amber.

Jika warna cahaya merah menyinari permukaan kuning amber maka
refleksi warna cahaya yang dihasilkan adalah merah karena warna
kuning amber pada permukaan mengandung warna merah (Gb.259). Jika
warna cahaya biru menyinari permukaan berwarna kuning amber maka
cahaya tidak akan merefleksi karena warna kuning amber pada
permukaan tidak mengandung warna biru.

Karena warna cahaya dapat menghasilkan refleksi warna pada
permukaan berwarna maka pemilihan filter warna haruslah benar-benar
diperhitungkan. Jangan sampai ada objek yang menjadi nampak sangat
terang sementara objek lain jadi kabur karena warna cahaya yang dipilih
tidak tepat. Untuk mendapatkan hasil terbaik, ujicoba penyinaran warna
cahaya terhadap permukaan berwarna harus sering dilakukan. Hal ini
juga berkaitan dengan bahan dasar permukaan yang akan disinari. Ada
bahan atau cat yang mampu menyerap cahaya tetapi ada juga bahan
yang justru memantulkan cahaya berlebihan. Selalu mencoba adalah hal
terbaik yang dapat dilakukan untuk mengetahui karakter warna cahaya,
bahan dan warna permukaan, dan refleksi yang dihasilkan.

3.4 Penyinaran
Prinsip dasar penyinaran adalah membuat objek yang disinari
jelas terlihat dan cahaya tidak bocor sampai ke penonton atau bagian
panggung lainnya yang tidak memerlukan sinar. Tetapi karena karya teater adalah karya artistik maka penyinaran dalam panggung teater juga
harus mampu menghadirkan efek artistik yang dikehendaki. Dengan
mengatur sudut penyinaran efek-efek artistik bisa dimunculkan. Dalam
satu cerita atau adegan terkadang membutuhkan pencahayaan tertentu
yang tidak hanya asal terang. Misalnya, untuk menghadirkan seorang
tokoh misterius dibutuhkan penampakkan siluet, maka lampu harus diatur
sedemikian rupa sehingga menghasilkan siluet tokoh tersebut. Dengan
mencoba pengaturan sudut datangnya cahaya, maka efek tertentu akan
didapatkan.
Lampu yang diarahkan langsung ke wajah aktor akan
menghasilkan efek flat atau datar (Gb.261). Lampu yang datang dari arah
depan dengan intensitas tinggi akan menghapus bayangan pada bagian
muka. Tidak ada bayangan pada cekung mata yang mengindikasikan
kedalaman. Tidak ada bayangan pada bagian pipi yang memisahkannya
dari leher. Tidak ada bayangan pada hidung yang menunjukkan volume.
Oleh karena tidak ada bayangan sama sekali, maka wajah aktor nampak
datar. Meski demikian, pengambilan dengan sudut seperti ini terkadang
dibutuhkan untuk memberi efek cahaya berlebih sehingga orang tersebut
nampak bersinar.

Lampu yang datang 45 derajat dari atas akan memberikan
bayangan pada bagian wajah sehingga efek tiga dimensinya terlihat
(Gb.262). Dengan sudut pengambilan seperti ini penonton paling tidak
bisa menyaksikan lekuk-lekuk wajah sang aktor. Untuk penampakan
karakter dengan ketegasan lekuk wajah pengambilan dari sudut ini bisa
dimanfaatkan. Kedalaman cekung mata, penonjolan tulang pipi dan
hidung bisa dimunculkan.

Lampu yang datang tepat dari arah atas akan menghasilkan cahaya yang
mengalir lurus ke bawah. Wajah aktor mendapatkan sangat sedikit sinar
yang memendar dari atas kepalanya (Gb.263). Meskipun wajah hanya
sedikit tersinari tetapi efek dramatis bisa dimunculkan. Dengan lampu
yang datang tepat dari arah atas maka tidak ada bayangan disekitar
aktor.

Lampu yang diletakkan di bagian bawah akan menimbulkan
bayangan terbalik secara penuh pada bagian-bagian wajah (Gb.264).
Bayangan pada mata akan berubah terang. Efek terang pada tulang pipi
dan hindung akan berubah jadi gelap. Sudut pengambilan ini dapat
menciptakan efek dramatik pada wajah aktor. Karena posisi bayangan
yang terbalik tersebut membuat wajah aktor nampak lain bahkan nampak
menyeramkan.

Lampu yang datang dari arah samping baik kanan atau kiri akan
menampakkan bagian samping tubuh dan menutupi samping tubuh yang
lain (Gb.265). Dengan sudut pengambilan ini, garis tubuh aktor akan
nampak jelas. Lampu samping sering digunakan untuk pertunjukan tari
atau teater gerak yang memang menonjolkan lekuk garis tubuh
pemainnya.

Lampu yang datang dari arah belakang atas akan memberikan
hasil yang berlawanan dengan lampu atas 45 derajat (Gb.266). Selain
akan menerangi bagian kepala, cahaya juga akan menyinari rambut dan
bahu aktor. Pengambilan sudut ini akan memberikan efek pemisahan
antara aktor dan background. Garis cahaya yang nampak pada rambut,
dan bahu akan memberikan kesan tiga dimensi sehingga aktor terlihat
tidak menempel pada background. Banyak sudut di antara sudut
pengambilan di atas yang bisa dicobakan. Tetapi pengambilan sudut
harus mempertimbangakn efek yang ingin dicapai sehingga hasilnya
benar-benar seperti apa yang diharapkan.

3.4.1 Penyinaran Aktor
Guna menyinari aktor yang mengahadap ke penonton ada teknik
dasar yang bisa diterapkan. Selain kejelasan pencahayaan juga harus
mampu menampilkan dimensi. Untuk hasil termudah letakkan dua lampu
dengan arah atas 450 (derajat) pada masing-masing sisi dimana aktor
berdiri (Gb.267). Karena sinar cahaya lebih lebar daripada tubuh aktor
maka ia bisa bergerak di seputar lingkar cahaya dengan tetap tersinari.
Kedua posisi lampu akan membentuk sudut 900 (derajat) sehingga lingkar
cahaya yang dihasilkan akan mampu menyinari area yang cukup bagi
aktor untuk bergerak.
Luas ruang penyinaran yang diciptakan oleh dua lampu dan
memberikan cukup cahaya untuk aktor ini disebut area. Ukuran area ini
bisa disesuaikan dengan menggunakan lampu. Jika jarak pengambilan
jauh maka area pun akan membersar demikian juga ketika lingkar cahaya pada lampu spot diperbesar maka cakupan sinarnya pun akan
membesar. Penyinaran aktor dengan dua lampu ini menjadi teknik dasar
yang dapat diterapkan secara umum pada panggung pertunjukan.
Karena masing-masing panggung memiliki ukuran luas dan karakter yang
berbeda maka peletakan lampu pun harus menyesuaikan. Oleh karena
itu, sudut pengambilan dengan dua lampu ini pun perlu dicobakan.

Ada panggung yang menyediakan baris bar yang memungkinkan
pengambilan dengan sudut 450, tetapi ada juga panggung yang tidak
memiliki baris bar yang memungkinkan pengambilan sudut 450. Jika
terjadi hal semacam ini maka sudut pengambilan pun bisa berubah tetapi
prinsip penyinaran aktor dengan dua lampu tetap dilaksanakan.
3.4.2 Penyinaran Area
Prinsip dasar penyinaran aktor dengan dua lampu bisa diterapkan
untuk penyinaran area. Panggung pertunjukan secara umum dibagi
menjadi 9 area permainan. Dengan menerapkan prinsip di atas maka
masing-masing area disinari oleh minimal dua lampu yang diambil dari
sudut 450 pada masing-masing sisinya (Gb.268). Karena ukuran
panggung yang berbeda-beda maka jarak pengambilan antara lampu dan
area yang akan disinari perlu dipertimbangkan.
Pertimbangan mendasar yang perlu diperhatikan adalah luas area
yang hendak disinari. Hal ini berkaitan dengan luas lingkar cahaya
optimal yang bisa dipenuhi oleh masing-masing lampu. Jika sudut
pengambilan dan jarak yang ditentukan kurang tepat atau berada di luar jangkauan maksimal lampu maka pendar cahaya yang dihasilkan kabur
sehingga tidak bisa memberikan kecukupan cahaya.
  
Penyinaran area 

Gambar di atas memperlihatkan masing-masing area mendapat
penyinaran dari dua lampu. Prinsip penyinaran ini adalah prinsip dasar.
Artinya, dengan jumlah lampu minimal seluruh area panggung bisa
disinari. Dengan sistem penyinaran semacam ini penonton dapat
menangkap kejelasan objek yang ada di atas panggung. Detil
pencahayan bisa dilengkapi dengan menambah lampu yang diarahkan
khusus ke tata panggung, aktor atau objek lain di atas pentas. Setelah
dipenuhinya prinsip dasar penyinaran area maka penonjolan yang akan
dilakukan melalui tata cahaya dapat dikerjakan dengan lebih mudah.
3.5 Praktek Tata Cahaya
Proses kerja penataan cahaya dalam pementasan teater
membutuhkan waktu yang lama. Seorang penata cahaya tidak hanya
bekerja sehari atau dua hari menjelang pementasan. Kejelian sangat
diperlukan, karena fungsi tata cahaya tidak hanya sekedar menerangi
panggung pertunjukan. Kehadiran tata cahaya sangat membantu
dramatika lakon yang dipentaskan. Tidak jarang sebuah pertunjukan
tampak sepektakuler karena kerja tata cahayanya yang hebat. Untuk
hasil yang terbaik, penata cahaya perlu mengikuti prosedur kerja mulai
dari menerima naskah sampai pementasan.

Prosedur atau langkah kerja pada dasarnya dibuat untuk mempermudah
kerja seseorang. Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa kerja penata
cahaya tidak hanya sekedar menata lampu, menghidupkan, dan
mematikannya.
3.5.1 Mempelajari Naskah
Naskah lakon adalah bahan dasar ekspresi artistik pementasan
teater. Semua kreativitas yang dihasilkan mengacu pada lakon yang
dipilih. Tidak hanya sutradara dan aktor yang perlu mempelajari naskah
lakon. Penata cahaya pun perlu mempelajari naskah lakon. Berbeda
dengan aktor yang berkutat pada karakter tokoh peran, penata cahaya
mempelajari lakon untuk menangkap maksud lakon serta mempelajari
detil latar waktu, dan tempat kejadian peristiwa.
Mempelajari tempat kejadian peristiwa akan memberikan
gambaran pada penata cahaya tempat cerita berlangsung, suasana dan
piranti yang digunakan. Mungkin ada piranti yang menghasilkan cahaya
seperti obor, lilin, lampu belajar, dan lain sebagainya yang digunakan
dalam cerita tersebut. Ini semua menjadi catatan penata cahaya. Setiap
sumber cahaya menghasilkan warna dan efek cahaya yang berbeda
yang pada akhirnya akan memberikan gambaran suasana.
Tempat berlangsungnya cerita juga memberikan gambaran
cahaya. Peristiwa yang terjadi di dalam ruang memiliki pencahaayaan
yang berbeda dengan di luar ruang. Jika dihubungkan dengan waktu
kejadian maka gambaran detil cahaya secara keseluruhan akan
didapatkan. Jika perstiwa terjadi di luar ruang pada siang hari berbeda
dengan sore hari. Persitiwa yang terjadi di luar ruang memerlukan
pencahayaan yang bebeda antara di sebuah taman kota dan di teras sebuah rumah. Semua hal yang berkaitan dengan ruang dan waktu harus
menjadi catatan penata cahaya.
3.5.2 Diskusi Dengan Sutradara
Penata cahaya perlu meluangkan waktu khusus untuk berdiskusi
dengan sutradara. Setelah mempelajari naskah dan mendapatkan
gambaran keseluruhan kejadian peristiwa lakon, penata cahaya perlu
mengetahui interpretasi dan keinginan sutradara mengenai lakon yang
hendak dimainkan tersebut. Mungkin sutradara mengehendaki
penonjolan pada adegan tertentu atau bahkan menghendaki efek khusus
dalam persitiwa tertentu. Catatan penata cahaya yang didapatkan setelah
mempelajari naskah digabungkan dengan catatan dari sutradara
sehingga gambaran keseluruhan pencahayaan yang diperlukan
didapatkan.
3.5.3 Mempelajari Desain Tata Busana
Berdiskusi dengan penata busana lebih khusus adalah untuk
menyesuaikan warna dan bahan yang digunakan dalam tata busana.
Seperti yang telah disebut di atas, bahan-bahan tertentu dapat
menghasilkan refleksi tertentu serta warna tertentu dapat memantulkan
warna cahaya atau menyerapnya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak
dinginkan maka kerjasama antara penata cahaya dan penata busana
perlu dijalin.
Hal ini juga berkaitan juga dengan catatan sutradara. Misalnya,
dalam satu peristiwa sutradara menghendaki cahaya berwarna kehijauan
untuk menyimbolkan sebuah mimpi, penata busana juga membuat baju
berwarna hijau untuk menegaskan suasana tersebut. Penata cahaya bisa
memberikan saran penggunaan warna hijau pada busana karena warna
hijau cahaya jika mengenai warna hijau tertentu pada busana bisa saling
meniadakan. Artinya, warna hijau yang ingin ditampilkan justru hilang.
Untuk itu, diskusi dan saling mempelajari desain perlu dilakukan.
3.5.4 Mempelajari Desain Tata Panggung
Diskusi dengan penata panggung sangat diperlukan karena tugas
tata cahaya selain menyinari aktor dan area juga menyediakan cahaya
khusus untuk set dan properti yang ada di panggung. Selain bahan dan
warna, penataan dekor di atas pentas penting untuk dipelajari. Jika
desain tata panggung memperlihatkan sebuah konstruksi maka tata
cahaya harus membantu memberikan dimensi pada konstruksi tersebut.
Jika desain tata panggung menampilkan bangunan arsitektural gaya
tertentu maka tata cahaya harus mampu membantu menampilkan
keistemewaan gaya arstitektur yang ditampilkan.
Penyinaran pada set dekor tidak hanya berlaku untuk set dekor
saja tetapi juga berlaku untuk lingkungan sekitarnya. Misalnya, di atas
panggung menampakkan sebuah ruang yang di bagian belakangnya ada
jendela. Ketika jendela itu dibuka dan lampu ruangan tersebut dinyalakan maka pendar cahaya dalam ruangan harus sampai ke luar ruangan
melalui jendela tersebut. Tugas tata cahaya adalah menyajikan efek sinar
lampu ruangan yang menerobos ke luar ruangan. Intinya, setiap detil efek
cahaya yang dihasilkan berkaitan dengan tata panggung harus
diperhitungkan. Semua harus nampak logis bagi mata penonton.
3.5.5 Memeriksa Panggung dan Perlengkapan
Memeriksa panggung dan perlengkapan adalah tugas berikutnya
bagi penata cahaya. Dengan mempelajari ukuran panggung maka akan
diketahui luas area yang perlu disinari. Penempatan baris bar lampu
menentukan sudut pengambilan cahaya yang akan ditetapkan.
Ketersediaan lampu yang ada dipanggung juga menentukan peletakkan
lampu berdasar kepentingan penyinaran berkaitan dengan karakter dan
kemampuan teknis lampu tersebut. Semua kelengkapan pernak-pernik
yang ada di panggung harus diperiksa.
Ketersediaan peralatan seperti, tangga, tali, pengerek, rantai
pengaman lampu, sabuk pengaman, sekrup, obeng, gunting, dan
perlatan kecil lainnya harus diperiksa. Ketersediaan lampu baik jumlah,
jenis, dan kekuatan dayanya harus dicatat. Asesoris yang dibutuhkan
untuk lampu seperti; filter warna, kelem, pengait, barndoor, stand, iris,
gobo, dan asesoris lain yang ada juga harus diperiksa. Ketersediaan
dimmer dan kontrol serta kelistrikan yang menjadi sumber daya utama
juga harus diteliti.
Semua yang ada di panggung yang berkaitan dengan kerja tata
cahaya dicatat. Berikutnya adalah kalkulasi keperluan tata cahaya
berdasar capaian artistik yang dinginkan dan dibandingkan dengan
ketersediaan perlengkapan yang ada. Dengan mempelajari panggung
dan segala perlengkapan yang disediakan penata cahaya akan
menemukan kekurangan atau problem yang perlu diatasi. Misalnya,
penataan boom pada panggung kurang sesuai dengan sudut
pengambilan lampu samping untuk menyinari set dekor. Oleh karena itu
diperlukan stand tambahan. Lampu yang tersedia masih kurang
mencukupi untuk menerangi beberapa bagian arsitektur tata panggung,
untuk itu diperlukan lampu tambahan.
Semua problem yang ditemui dan solusi yang bisa dilakukan
kemudian dicatat dan diajukan ke sutradara atau tim produksi. Jika tim
produksi tidak bisa menyediakan kelengkapan yang diperlukan maka
penata cahaya harus mengoptimalkan ketersediaan perlengkapan tata
cahaya yang ada. Misalnya, dengan menerapkan prinsip penerangan
area dan memanfaat beberapa lampu sisa yang ada untuk efek tertentu.
3.5.6 Menghadiri Latihan
Untuk mendapatkan gambaran lengkap dari situasi masingmasing
adegan yang diinginkan penata cahaya wajib mendatangi sesi
latihan aktor. Selain untuk memahami suasana adegan, penata cahaya
juga mencatat hal-hal khusus yang menjadi fokus adegan. Hal ini sangat penting bagi penata cahaya untuk merencanakan perpindahan cahaya
dari adegan satu ke adegan lain. Perpindahan cahaya yang halus
membuat penonton tidak sadar digiring ke suasana yang berbeda.
Hasilnya, efek dramatis yang akan ditampilkan oleh cerita jadi semakin
mengena.
Sesi latihan dengan aktor akan memberikan gambaran detil setiap
pergerakan aktor di atas pentas. Setelah mencatat hal-hal yang berkaitan
dengan suasana adegan maka proses pergerakan dan posisi aktor di
atas pentas perlu diperhatikan. Penyinaran berdasar area memang
memberi penerangan pada seluruh area permainan tetapi tidak pada
aktor secara khsusus. Dalam satu adegan tertentu mungkin saja aktor
berada di luar jangkauan optimal lingkaran sinar cahaya. Oleh karena itu,
aktor yang berdiri atau berpose pada area tertentu memerlukan
pencahayaan tersendiri. Hal ini berlaku juga untuk tata panggung pada
saat latihan teknik dijalankan. Penata cahaya perlu mendapatkan
gambaran riil letak set dekor dan seluruh perabot di atas pentas. Dengan
demikian, detil pencahayaan pada set dan perabot bisa dirancang dan
diperhitungkan dengan baik.
3.5.7 Membuat Konsep
Setelah mendapatkan keseluruhan gambaran dan pemahaman
penata cahaya mulai membuat konsep pencahayaan. Konsep ini hanya
berupa gambaran dasar penata cahaya terhadap lakon dan pencahayaan
yang akan diterapkan untuk mendukung lakon tersebut. Warna,
intensitas, dan makna cahaya dituangkan oleh penata cahaya pada
konsepnya. Tidak hanya penggambaran suasana yang dituangkan tetapi
bisa saja simbol-simbol tertentu yang hendak disampaikan untuk
mendukung makna adegan. Misalnya, dalam satu adegan di ruang tamu
ada foto besar seorang pejuang yang dipasang di dinding. Untuk
memberi kesan bahwa pemiliki rumah sangat mengagumi tokoh tersebut
maka foto diberi pencahayaan khusus. Juga dalam setiap perubahan dan
perjalanan adegan konsep pencahayaan digambarkan. Konsep bisa
ditulis atau ditambahi dengan gambar rencana dasar. Intinya, komsep ini
membicarakan gagasan pencahayaan lakon yang akan dimainkan
menurut penata cahaya. Selanjutnya konsep didiskusikan dengan
sutradara untuk mendapatkan kesesuaian dengan rencana artistik secara
keseluruhan.

3.5.8 Plot Tata Cahaya
Konsep yang sudah jadi dan disepakati selanjutnya dijabarkan
secara teknis pertama kali dalam bentuk plot tata cahaya. Plot ini akan
memberikan gambaran laku tata cahaya mulai dari awal sampai akhir
pertunjukan. Seperti halnya sebuah sinopsis cerita, perjalanan tata
cahaya ditgambarkan dengan jelas termasuk efek cahaya yang akan
ditampilkan dalam adegan demi adegan. Plot ini juga merupakan cue
atau penanda hidup matinya cahaya pada area tertentu dalam adegan tertentu. Dengan membuat plot maka penata cahaya bisa
memperhitungkan jenis lampu serta warna cahaya yang dibutuhkan,
memperkirakan lamanya waktu penyinaran area atau aksi tertentu,
merencanakan pemindahan aliran cahaya, dan suasana yang
dikehendaki.
  
Contoh plot tata cahaya 

 Gambar di atas menjelaskan plot tata cahaya pada adegan satu
cerita Menanti Pagi. Kolom “Hal” menjelaskan adegan tersebut terjadi
pada naskah di halaman tertentu. Kolom “Aksi” menjelaskan kejadian
peristiwa atau adegan. Kolom “cue” menjelaskan tanda perubahan
cahaya yang harus dilakukan. Kolom “waktu” menjelaskan lamanya
waktu adegan dengan cahaya tertentu. Kolom ”cahaya” menjelaskan
hasil pencahayaan yang akan dicapai. Dengan membaca plot tersebut
dapat diketahui bahwa cerita yang akan ditampilkan bernuansa horror di
mana pada malam yang diterangi sinar bulan Anton dan Amir sedang
duduk berbincang di kursi. Pintu tiba-tiba terbuka, kemudian tertutup dan
lampu ruangan mati. Amir dan Anton lari keluar. Dari sekilas gambaran adegan tersebut dapat diketahui lampu yang akan digunakan dan efek
cahaya yang dihasilkan. Setiap perubahan pencahayaan menjadi catatan
dan bisa dijadikan cue. Dalam gambar dijelaskan ada empat cue
perubahan.
Pada saat adegan dimulai, lampu sudah dipreset sehingga tingal
dinaikkan intensitasnya. Cue perubahan tata cahaya pertama adalah
ketika Anton dan Amir masuk ke ruangan, duduk di kursi dan menyalakan
lampu yang ada di dekat kursi. Efek cahaya dari lampu yang dinyalakan
ini menjadi penanda perubahan. Cue perubahan kedua terjadi ketika
pintu terbuka dan efek cahaya bulan masuk melalui pintu. Demikian
seterusnya sampai adegan tersebut berakhir dan lampu panggung
dipadamkan (black out).
3.5.9 Gambar Desain Tata Cahaya
Untuk memberikan gambaran teknis yang lebih jelas, perlu
digambarkan tata letak lampu. Berdasar pada plot tata cahaya yang
dibuat maka rencana penataan lampu bisa digambarkan. Semua jenis
dan ukuran lampu yang akan digunakan digambarkan tata letaknya.
Sebelum menggambarkan tata letak lampu perlu diketahui dulu simbolsimbol
lampu. Simbol gambar lampu mengelami perkembangan. Hal ini
berkaitan dengan jenis lampu yang tersedia dan umum digunakan.
Gambar di bawah memperlihatkan simbol-simbol lampu yang biasa
digunakan.

Banyak sekali jenis dan ukuran lampu yang dikeluarkan oleh
pabrikan. Masing-masing perusahan memiliki gambar simbol yang
berbeda menyangkut bentuk luar lampu produksinya. Dulu, perusahaan
Strand mengeluarkan lampu yang diproduksi dan diberi kode “pattern”
disingkat “patt” dan nomor serinya. Jadi ada lampu dengan kode patt 23,
patt 247, patt 123, dan lain sebagainya. Untuk mengethui jenis dan
ukuran lampu harus mengingat patt dan nomornya. Cukup menyulitkan.
Selain itu, lampu pada zaman ini memiliki bentuk yang berbeda dengan
lampu sekarang sehingga ketika digambarkan simbolnya berbeda.
Sekarang, meskipun bentuk lampu berbeda tetapi gambar simbolnya
lebih mudah untuk diingat karena masing-masing jenis lampu memiliki
kemiripan gambar. Penulisannyapun tidak lagi menggunakan “patt” tetapi
langsung ke jenis lampu beserta besaran wattnya, misalnya fresnel 500
watt, ERS 1 KW, dan lain sebagainya. Gambar simbol lampu dalam
gambar 70 sudah bisa digunakan dan dipahami oleh para penata lampu.

Selanjutnya, gambar tata lampu dibuat dengan menggunakan
simbol lampu seperti tersebut di atas. Gambar pada tahap ini belum bisa
menyertakan channel dimmer yang akan digunakan oleh masing-masing
lampu. Gambar tata lampu lebih menitikberatkan pada peletakkan dan
pengarahan jenis lampu yang akan dipasang. Meskipun belum
menyertakan channel dimmer, gambar desain tata letak lampu yang
dibuat bisa dijadikan panduan pencahayaan.
Dari gambar di atas dapat dibaca, baris bar yang digunakan
adalah FOH, Bar 1, 2, 3, dan bar siklorama. FOH singkatan dari Front Of House adalah istilah untuk menyebut baris lampu yang ditata di atas
penonton. Cyc singkatan dari cyclorama (siklorama) baris lampu paling
belakang untuk menyinari layar. Nomor pada lampu hanya berfungsi
untuk menghitung jumlah lampu yang dipasang pada masing-masing bar.
Jenis lampu yang digunakan dapat dibaca dari gambar simbolnya.

3.5.10 Penataan dan Percobaan
Setelah memiliki gambar desain tata cahaya maka kerja
berikutnya adalah memasang dan mengatur lampu sesuai desain. Proses
pemasangan membutuhkan waktu yang lumayan lama terutama untuk
penyesuaian dengan channel dimmer dan control desk. Satu channel
bisa digunakan untuk lebih dari satu lampu. Setiap lampu yang telah
dipasang dalam cahnnel tertentu coba dinyalakan dan diarahkan sesuai
dengan area yang akan disinari. Pengaturan lampu ke channel dimmer
atau control desk diusahakan agar mudah dalam pengoperasian. Artinya,
jarak lever satu ke lever lain diusahakan berdekatan bagi lampu yang
hendak dinyalakan secara bersamaan tanpa preset. Pengaturan sudut
pengambilan juga memerlukan ketelitian. Di sinilah fungsi menghadiri
latihan dengan aktor diterapkan. Segala catatan pergerakan laku dan
posisi aktor di atas pentas dapat dijadikan acuan untuk menentukan
sudut pengambilan.

Setelah semua lampu dipasang dan diarahkan kemudian dicoba
dengan mengikuti plot tata cahaya dari awal sampai akhir. Hal ini untuk
mengetahui intensitas maksimal yang diperlukan, kesesuaian warna
cahaya yang dihasilkan serta kemudahan operasional pergantian cahaya
dari adegan satu ke adegan lain. Penata cahaya mencatat semuanya
dengan seksama sehingga ketika tahap ini selesai didapatkan gambaran
lengkap tata cahaya. Gambar tata cahaya sudah bisa dilengkapi dengan
channel dimmer atau nomor di control desk (Gb.273) sehingga tabel
lampu yang terpasang pada masing-masing bar bisa dituliskan dengan
lengkap pula.

3.5.11 Pementasan
Tahap terakhir adalah pementasan. Seluruh kerja tata lampu
dibuktikan pada saat malam pementasan. Kegagalan yang terjadi
meskipun sedikit akan mempengaruhi hasil seluruh pertunjukan. Oleh
karena itu, kecermatan dan ketelitian kerja penata cahaya sangat
diperlukan. Penting untuk memeriksa semuanya sebelum jam
pertunjukan dilangsungkan. Jika terdapati kesalahan teknis tertentu
masih ada waktu untuk memperbaikinya. Semua sangat tergantung dari
kesiapan tata cahaya karena tanpa cahaya pertunjukan tidak akan bisa
disaksikan.

 

Latihan Soal IPA SD untuk menghadapi ujian

Kerjakanlah di buku tugasmu!
I. Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d di depan jawaban yang benar!
1. Kelangsungan hidup makhluk hidup dapat berlanjut dan lestari, jika makhluk hidup tersebut mampu ....
a. menyesuaikan diri
b. mencari habitat baru
c. mempertinggi daya tahannya
d. mencari makan sebanyak-banyaknya

5. Cara ikan menyesuaikan diri dengan lingkungan air dengan cara ....
a. bentuk tubuhnya langsing dan bersirip
b. bentuk tubuhnya bulat dan bersirip
c. bentuknya macam-macam dan suka makan cacing
d. sering muncul ke permukaan air dan bernapas

6. Ikan paus sering muncul ke permukaan air laut, untuk ....
a. menghirup CO2
b. menghirup O2
c. melakukan atraksi
d. menyemburkan air laut

8. Penyesuaian diri (adaptasi) tumbuhan kaktus adalah ....
a. daun seperti duri
b. daun lebar sekali
c. batang berongga
d. akarnya pendek

9. Ikan paus dan ikan lumba-lumba sering muncul ke permukaan air untuk menghirup oksigen (O2), hal ini merupakan adaptasi ....
a. morfologi               c. tingkah laku
b. fisiologi               d. semua ikan

10. Daun kecil-kecil seperti duri, berlapis lilin, dan akarnya panjang-panjang merupakan bentuk adaptasi dari tumbuhan ....
a. padi               c. kaktus
b. jagung               d. mangga

20. Hewan yang melindungi diri dari pemangsa dengan cara mengeluarkan bau menyengat adalah ....
a. semut
b. katak
c. walang sangit
d. kumbang jantan

21. Contoh hewan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan gurun adalah ....
a. paus
b. unta
c. penguin
d. beruang

22. Alat yang digunakan untuk melindungi diri berupa tanduk, dimiliki oleh hewan ....
a. rusa
b. singa
c. harimau
d. kalajengking

23. Tumbuhan yang meranggas di musim kemarau adalah ....
a. mangga
b. teratai
c. flamboyan
d. ketela pohon

24. Contoh tumbuhan pemakan serangga (insektivora) adalah ....
a. tebu
b. salak
c. nangka
d. kantong semar

25. Tikus gurun mampu tidur berbulan-bulan untuk menghemat energi, saat melakukan.....
a. estivasi
b. hibernasi
c. autotomi
d. mimikri

II. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang singkat dan benar!
1. Cara beradaptasi eceng gondok dengan lingkungan air adalah ....
2. Bentuk penyesuaian kaki bebek dengan lingkungan yang becek dan berair adalah ....
6. Pohon jati dapat beradaptasi dengan lingkungan kering dan basah, maka pohon jati tergolong tanaman ....
7. Tumbuhan kaktus merupakan contoh tumbuhan xerofit. Ciri-ciri tumbuhan xerofit adalah ....
8. Cecak dan kadal melindungi diri dengan cara memutuskan ekornya yang disebut ....
9. Tikus gurun dan berang-berang dapat tidur berbulan-bulan di musim dingin untuk menghemat energi. Peristiwa ini disebut ....
10. Cacing dapat tidur berbulan-bulan di musim kering untuk menghemat energi, peristiwa ini dikenal dengan istilah ....
11. Hewan yang melindungi diri dengan cara mengeluarkan bau yang sangat menyengat adalah....
12. Hewan yang berpura-pura mati bila diserang musuhnya adalah ... dan ....
13. Kantong semar dinamakan tumbuhan insektivora karena ....
14. Tiga (3) contoh tanaman yang melindungi diri dengan mengeluarkan getahnya adalah ....
15. Di musim kemarau, daun jati menggugurkan daunnya untuk mengurangi penguapan, peristiwa gugurnya daun tersebut dinamakan ....
16. Tumbuhan yang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang lembab dinamakan tumbuhan ....
17. Adaptasi yang paling mudah diamati adalah ....
18. Bunga bangkai adalah salah satu tumbuhan yang melindungi dirinya dengan cara ....
19. Tiga (3) contoh cara tumbuhan melindungi dirinya adalah ....
20. Tiga (3) contoh cara hewan melindungi dirinya adalah ....

III. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1. Apakah yang dimaksud dengan adaptasi?
2. Sebutkan macam-macam adaptasi dan jelaskan!
3. Apakah tujuan makhluk hidup beradaptasi dengan lingkungannya?
4. Sebutkan ciri-ciri tumbuhan hidrofit!
5. Bagaimanakah cara unta menyesuaikan diri dengan lingkungannya?
6. Mengapa di musim kemarau, tumbuhan jati, randu, dan flamboyan menggugurkan daunnya?
7. Bagaimana cara cumi-cumi melindungi diri apabila dikejar musuh?
8. Bagaimana cara musang dan kumbang menyelamatkan diri bila dikejar musuh?
9. Faktor apakah yang memengaruhi perbedaan bentuk paruh dan bentuk kaki unggas?
10. Sebutkan 3 ciri tumbuhan gurun untuk beradaptasi dengan lingkungannya!


 

Belajar Teknik Gambar Bangunan

 sketsa gambar bangunan
materi teknik gambar bangunan
materi smk jurusan teknik gambar bangunan
prospek kerja teknik gambar bangunan
smk jurusan teknik gambar bangunan di surabaya
buku gambar teknik pdf
notasi gambar teknik arsitektur
gambar teknik arsitektur pdf

Perlengkapan dan Peralatan K3 (Teknik Struktur Bangunan)

 Pelatihan Program K3

 

Perlengkapan dan Peralatan K3

Perlengkapan dan peralatan penunjang program K3, meliputi:
~ promosi program K3; 

yang terdiri dari:
− pemasangan bendera K3, bendera RI, bendera perusahaan.
− Pemasangan sign-board K3 yang berisi antara lain slogan-slogan yang mengingatkan perlunya bekerja dengan selamat

Gambar Papan promosi K3

~ Sarana peralatan yang melekat pada orang atau disebut perlengkapan perlindungan diri (personal protective equipment), diantaranya:
− Pelindung mata dan wajah
Kaca mata safety (gambar) merupakan peralatan yang paling banyak digunakan sebagai pelindung mata. Meskipun kelihatannya sama dengan kacamata biasa, namun kaca mata safety lebih kuat dan tahan benturan serta tahan panas dari pada kaca mata biasa. Goggle memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan safety glass sebab lebih menempel pada wajah (gambar)

Gambar Peralatan pelindung mata

Pelindung wajah (gambar) memberikan perlindungan menyeluruh pada wajah dari bahaya percikan bahan kimia, obyek yang beterbangan atau cairan besi. Banyak dari pelindung wajah ini dapat digunakan bersamaan dengan penggunaan helm.

Helm pengelas (gambar) memberikan perlindungan baik pada wajah dan juga mata. Helm ini menggunakan lensa penahan khusus yang menyaring intesnsitas cahaya serta energi panas yang dihasilkan dari kegiatan pengelasan.

Gambar Jenis peralatan pelindung wajah

a. kaca mata safety b. goggle
a. pelindung wajah b. helm pengelas
1. lingkup pekerjaan dan peraturan bangunan
− Pelindung pendengaran, dan jenis yang paling banyak digunakan:
foam earplugs, PVC earplugs, earmuffs (gambar)

Gambar Macam-macam pelindung pendengaran

− Pelindung kepala atau helm (hard hat) yang melindungi kepala karena memiliki hal berikut: lapisan yang keras, tahan dan kuat terhadap benturan yang mengenai kepala; sistem suspensi yang ada didalamnya bertindak sebagai penahan goncangan; beberapa jenis dirancang tahan terhadap sengatan listrik; serta melindungi kulit kepala, wajah, leher, dan bahu dari percikan, tumpahan, dan tetesan.

Jenis-jenis pelindung kepala seperti pada gambar 1.10, antara lain: Kelas G untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh; dan melindungi dari sengatan listrik sampai 2.200 volts.
Kelas E untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh, dan dapat melindungi dari sengatan listrik sampai 20.000 volts.
Kelas F untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh, TIDAK melindungi dari sengatan listrik, dan TIDAK melindungi dari bahan-bahan yang merusak (korosif)
 

: a. Kelas G b. Kelas E c. Kelas F

Gambar Jenis helm pelindung kepala


− Pelindung kaki berupa sepatu dan sepatu boot, seperti terlihat pada gambar 1.11a-g, antara lain:

a) Steel toe, sepatu yang didesain untuk melindingi jari kaki dari kejatuhan benda
b) Metatarsal, sepatu yang didesain khusus melindungi seluruh kaki dari bagian tuas sampai jari
c) Reinforced sole, sepatu ini didesain dengan bahan penguat dari besi yang akan melindungi dari tusukan pada kaki
d) Latex/Rubber, sepatu yang tahan terhadap bahan kimia dan memberikan daya cengkeram yang lebih kuat pada permukaan yang licin.
e) PVC boots, sepatu yang melindungi dari lembab dan membantu berjalan di tempat becek
f) Vinyl boots, sepatu yang tahan larutan kimia, asam, alkali, garam, air dan darah
g) Nitrile boots, sepatu yang tahan terhadap lemak hewan, oli, dan bahan kimia

Gambar Jenis sepatu dan boots pelindung kaki

− Pelindung tangan berupa sarung tangan dengan jenis-jenisnya seperti terlihat pada gambar 1.12a-g,antara lain:
a) Metal mesh, sarung tangan yang tahan terhadap ujung benda yang tajam dan melindungi tangan dari terpotong
b) Leather gloves, melindungi tangan dari permukaan yang kasar. a b c d e f g
c) Vinyl dan neoprene gloves, melindungi tangan dari bahan kimia beracun
d) Rubber gloves, melindungi tangan saat bekerja dengan listrik
e) Padded cloth gloves, melindungi tangan dari sisi yang tajam, bergelombang dan kotor.
f) Heat resistant gloves, melindungi tangan dari panas dan api
g) Latex disposable gloves, melindungi tangan dari bakteri dan kuman
 

Gambar Jenis sarung tangan pelindung


− Pelindung bahaya jatuh dengan jenis-jenis antara lain: (gambar)
a) Full Body Hardness (Pakaian penahan Bahaya Jatuh), sistim yang dirancang untuk menyebarkan tenaga benturan atau goncangan pada saat jatuh melalui pundak, paha dan pantat.
Pakaian penahan bahaya jatuh ini dirancang dengan desain yang nyaman bagi si pemakai dimana pengikat pundak, dada, dan tali paha dapat disesuaikan menurut pemakainya. Pakaian penahan bahaya jatuh ini dilengkapi dengan cincin “D” (high) yang terletak dibelakang dan di depan dimana tersambung tali pengikat, tali pengaman atau alat penolong lain yang dapat dipasangkan
b) Life Line (tali kaitan), tali kaitan lentur dengan kekuatan tarik minimum 500 kg yang salah satu ujungnya diikatkan ketempat kaitan dan menggantung secara vertikal, atau diikatkan pada tempat kaitan yang lain untuk digunakan secara horisontal
c) Anchor Point (Tempat Kaitan), tempat menyangkutkan pengait yang sedikitnya harus mampu menahan 500 kg per pekerja yang menggunakan tempat kaitan tersebut. Tempat kaitan harus dipilih untuk mencegah kemungkinan jatuh. Tempat kaitan, jika memungkinkan harus ditempatkan lebih tinggi dari bahu pemakainya
d) Lanyard (Tali Pengikat), tali pendek yang lentur atau anyaman tali, digunakan untuk menghubungkan pakaian pelin-dung jatuh pekerja ke tempat kaitan atau tali kaitan. Panjang tali pengikat tidak boleh melebihi 2 meter dan harus yang kancing pengaitnya dapat mengunci secara otomatis
e) Refracting Life Lines (Pengencang Tali kaitan), komponen yang digunakan untuk mencegah agar tali pengikat tidak terlalu kendor. Tali tersebut akan memanjang dan memendek secara otomatis pada saat pekerja naik maupun pada saat turun.


Gambar Jenis peralatan pelindung jatuh

~ sarana peralatan lingkungan berupa:
− tabung pemadam kebakaran
− pagar pengamanan
− penangkal petir darurat
− pemeliharaan jalan kerja dan jembatan kerja a b c d e
− jaring pengamanan pada bangunan tinggi
− pagar pengaman lokasi proyek
− tangga
− peralatan P3K

~ rambu-rambu peringatan, antara lain dengan fungsi:
− peringatan bahaya dari atas
− peringatan bahaya benturan kepala
− peringatan bahaya longsoran
− peringatan bahaya api
− peringatan tersengat listrik
− penunjuk ketinggian (untuk bangunan yang lebih dari 2 lantai)
− penunjuk jalur instalasi listrik kerja sementara
− penunjuk batas ketinggian penumpukan material
− larangan memasuki area tertentu
− larangan membawa bahan-bahan berbahaya
− petunjuk untuk melapor (keluar masuk proyek)
− peringatan untuk memakai alat pengaman kerja
− peringatan ada alat/mesin yang berbahaya (untuk lokasi tertentu)
− peringatan larangan untuk masuk ke lokasi power listrik (untuk orang-orang tertentu)
 

Gambar Contoh rambu-rambu peringatan K3

 

Selengkapnya: Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Selengkapnya : Teknik Struktur Bangunan

 

Gaya adalah besaran usaha yang dikerjakan pada suatu titik dan atau bidang dengan arah tertentu

Cara Menyusun Gaya

Besaran dan Satuan

Besaran Skalar dan Besaran Vektor


Gaya secara singkat dapat diartikan sebagai besaran usaha yang dikerjakan pada suatu titik dan atau bidang dengan arah tertentu. Berdasarkan satuan metrik, satuan Newton merupakan satuan gaya yang umum digunakan. Besaran gaya ini merupakan perkalian besaran massa dan besaran percepatan yang dialamai oleh benda / materi tertsebut. Suatu masa 1 kg, jika ada di bumi, pasti akan mengalami percepatan gravitasi (g) yang besarnya mendekati 10 m/dt2. Dengan begitu massa tersebut akan memberikan gaya berat akibat gravitasi sebesar 10 Newton.

Satuan gaya ini kadang digunakan secara praktis oleh pelaku bidang keteknikan, utamanya yang banyak terlibat dengan berat suatu struktur, yakni digunakan istilah satuan kgf yang mengandung pengertian bahwa 1 kgf (1 kg force) dapat dikonversikan dengan besaran 10 Newton.

Gaya dapat dilukis dalam bentuk diagram panah. Panjang diagram merepresentasikan besar gaya. Sedang arah panah menunjukkan arah gaya yang bersangkutan

a) Arah Gaya
Berdasarkan arah pada suatu bidang datar dan terhadap titik tangkap tertentu, gaya dapat dibagi menjadi gaya datar (horisontal), vertikal dan gaya yang berarah miring.

Arah gaya pada suatu bidang: (a) Horisontal, (b) vertikal dan(c) gaya miring / diagonal



b) Gaya Normal
Terhadap arah serat batang struktur, gaya-gaya tersebut dapat dibedakan dan diuraikan ke dalam gaya normal/sejajar serat dan gaya melintang/tegak lurus serat. Berdasarkan arah, gaya normal dapat berupa gaya tekan, sering disepakati dengan tanda N – (Normal negatif) dan gaya tarikan sebagai N + (gaya normal positif).

c) Gaya Lintang
Terhadap serat batang, gaya ini memiliki arah tegak lurus atau melintang. Karenanya, gaya ini lebih sering disebut sebagai gaya lintang atau gaya geser. Ditinjau dari arah terhadap tampang batang, gaya lintang dapat berupa gaya lintang positif (+) dan gaya lintang negatif (-). Sebenarnya pembedaan tanda tersebut hanya didasarkan kesepakatan agar memberi kemudahan dan keajegan presentasi perhitungan pada perancangan struktur.

Gaya normal dan gaya lintang: (a) Gaya normal Tekan (P1), (b) Normal Tarik (P2) dan gaya lintang negatif (P3), (c) gaya lintang positif (P4)



Gaya lintang positif dapat ditandai dengan bagian kiri dari batang tergeser berarah ke atas, sementara bagian kiri mengarah ke bawah. Dengan begitu mengakibatkan batang yang terkena gaya tersebut berputar kekanan. Sedang gaya lintang negatif, merupakan kebalikan gaya lintang posif, mengakibatkan dua bagian batang berputar ke kiri.

d) Momen

 

Selengkapnya : Cara Menyusun Gaya

Selengkapnya : Teknik Struktur Bangunan

 

Menggambar Proyeksi Bangunan (MEMBUAT GAMBAR RENCANA)

 MEMBUAT GAMBAR RENCANA

Menggambar Proyeksi Bangunan


Uraian pada bagian ini merupakan uraian umum mengenai gambar proyeksi bangunan. Gambar proyeksi yang diuraikan adalah gambar proyeksi perspektif. Untuk dasar-dasar dari menggambar proyeksi dapat dilihat dan dipelajari dalam buku-buku dasar menggambar teknik bangunan.

Menggambar proyeksi perspektif adalah salah satu cara pengungkapan ide/ gagasan atau imajinasi yang sangat natural (dalam arti sesuai dengan kemampuan pandangan mata) dan mudah dimengerti oleh pemberi tugas atau orang lain yang bukan ahli bangunan/arsitek. Hal tersebut disebabkan gambar proyeksi perspektif memperlihatkan rencana ruang-ruang (space) dan massa bangunan dalam bentuk tiga dimensi. Untuk dapat membuat gambar proyeksi perspektif diperlukan pedoman gambar kerja/bestek berupa; gambar denah, potongan melintang, potongan memanjang, tampak depan, samping kiri, dan kanan dengan skala yang benar. Dengan kemampuan dan kemahiran menerapkan skala pada gambar denah, potongan, dan tampak secara proyeksi perspektif, akan diperoleh gambar proyeksi perspektif yang mendekati realita/kenyataan pandangan terhadap rencana bangunan sebenarnya.

Pembuatan gambar proyeksi perspektif terdiri dari dua sudut pandang, yaitu:
1. gambar proyeksi perspektif menggunakan dua titik lenyap setinggi mata orang (ibarat orang memotret dengan berdiri tegak). Gambar proyeksi perspektif model ini sering digunakan para arsitek untuk menggambar proyeksi perspektif karena objek bangunannya tidak terlalu besar dan menampakkan bentuk bangunan tiga dimensi dengan jelas,
2. pengambilan gambar perspektif menggunakan dua titik lenyap dengan mata burung (bird eye). Gambar proyeksi perspektif dengan model ini dilakukan bila objek bangunannya besar sekali, dan bentuk bangunan akan tampak semuanya, tetapi presentasenya lebih banyak terlihat bagian atap bangunan (ibarat orang memotret denganmemanjat pohon yang tinggi atau naik di atas menara). Model proyeksi perspektif ini jarang digunakan para arsitek karena tidak dapat menampakkan gambar bangunan dengan jelas.


MEMBUAT GAMBAR RENCANA..
A. Menggambar Proyeksi Bangunan
B. Menggambar Sketsa ..
C. Membuat Gambar Kerja dan Daftar Komponen .
D. Membaca Gambar Konstruksi.
1. Gambar Denah 
2. Gambar Potongan 
3. Gambar Tampak
4. Gambar Rencana 


Selengkapnya : Teknik konstruksi Bangunan Gedung


Wiremesh murah hubungi Afandi - 081233336118. - Ada juga besi beton murah.


Jasa Pembuatan Pagar, Kanopi (+Renovasi)
WA ke 081233336118


Keuntungan Property Syariah

 + Lokasi Strategis+ Lokasi yang dekat dengan pusat perekonomian, pendidikan, perkantoran dan memiliki nilai investasi yang terus tumbuh. + ...