Tampilkan postingan dengan label Teater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teater. Tampilkan semua postingan

TATA CAHAYA dalam Seni Pemeranan / Teater

TATA CAHAYA
Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari, bulan atau api untuk menerangi. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya.

Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam pelanataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan.


3.1 Fungsi Tata Cahaya

Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara, aktor, dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. Dengan cahaya, sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat, yaitu penerangan, dimensi, pemilihan, dan atmosfir (Mark Carpenter, 1988).

Karya Teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu

Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu. Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain. Saling berbicara. Berdiskusi. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. Dengan demikin dalam satu karya teater, tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain.

Praktek Tata Panggung

Praktek Tata Panggung Praktek tata panggung dimulai sejak menerima naskah lakon yang hendak dipentaskan. Tidak bisa seorang penata panggun...

PUSTAKA dalam Pemeranan / Teater

DAFTAR PUSTAKA

A. Adjib Hamzah, 1985. Pengantar Bermain Drama. Bandung: CV Rosda


A. Kasim Achmad, 2006. Mengenal Teater Tradisional di Indonesia, Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

Afrizal Malna, “Anatomi Tubuh dan Kata: Teater Kontemporer Sebuah Indonesia Kecil”, dalam, Taufik Rahzen, ed. 1999. Ekologi Teater Indonesia, Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Arthur S. Nalan, 2006, Teater Egaliter. Bandung: Sunan Ambu Press, STSI Bandung.

Bakdi Soemanto, 2001. Jagad Teater. Yogyakarta: Media Pressindo

Boen S. Oemarjati, 1971. Bentuk Lakon Indonesia. Jakarta: PT Gunung Agung

Bruce Burton, 2006. Creating Drama. Melbourne: Pearson Education Australia

Christian Hugonnet & PierreWalder, 1998. Stereo Sound Recording, John Wiley & Sons Ltd.

David Grote, 1997. Play Directing in the School, a Drama Director’s Survival Guide. Colorado: Meriwether Publishing Ltd.

Eka D. Sitorus, 2002. The Art of Acting, Seni Peran untuk Teater, Film dan TV. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Relaksasi -Olah Tubuh - PEMERANAN / Teater

Relaksasi
Relaksasi adalah memposisikan tubuh dalam kondisi yang rileks, tanpa tegangan. Akan tetapi, meskipun tubuh rileks bukan berarti berada dalam keadaan pasif (tanpa bergerak). Relaksasi melepaskan kekangan yang ada dalam tubuh melalui gerakan-gerakan lembut yang teratur.
Keteraturan gerak seirama dengan nafas sehingga ketegangan otot-toto tubuh kembali mengendur. Relaksasi merupakan hal yang penting bagi semua pemeran. Oto-otot tubuh yang menegang membawa dampak yang kurang baik bagi emosi sehingga mempengaruhi konsentrasi.
Pemeran pemula biasanya sulit bersikap rileks. Hal ini disebabkan ketidaksiapan fisik dan semosi saat berada di hadapan penonton.

Dengan kata lain, dalam keadaan rileks, aktor akan menunggu dengan tenang dan sadar dalam mengambil tempat dan melakukan akting. Untuk mencapai relaksasi atau mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik diatas panggung, konsentrasi adalah tujuan utama.

Istilah-istilah dalam bidang Seni Teater

Istilah-istilah dalam bidang Seni Teater Adegan : Bagian dari babak yang menggambarkan satu suasana dari beberapa suasana dalam babak A...

Panggung Thrust

Panggung thrust seperti panggung proscenium tetapi dua per tiga bagian depannya menjorok ke arah penonton. Pada bagian depan yang menjorok i...

Pendinginan - Olah Tubuh - Pemeranan / Teater

Pendinginan
Pendinginan atau peredaan (warm-down) yaitu serial pendek gerakan latihan yang bertujuan untuk menyegarkan kembali kondisi tubuh. Pengenduran otot-otot dilakukan untuk memperbaiki kelenturan tubuh yang menegang akibat latihan inti.

Sasaran dari latihan ini adalah sebagai berikut.
a. Mengakhiri setiap latihan dalam suasana yang menyenangkan.
b. Menetapkan suatu serial gerakan dengan maksud untuk mempertahankan penambahan sirkulasi yang  ingan, meregangkan otot-otot dan melancarkan peredaran darah, serta menstabilkan pernafasan.
c. Memperbaiki kesadaran diri dari kebutuhan-kebutuhan otototot.

Program latihan pendinginan atau peredaan itu adalah sebagai berikut.
a. Berdiri tegak, kaki dibuka + 60 cm, badan condong ke kiri, kaki kanan lurus dan kaki kiri agak ditekuk ke bawah, tangan kanan lurus ke atas di samping kepala dan tangan kiri ditempelkan pada paha kaki kiri, tahan sampai 8 hitungan. Ganti badan condong ke kanan.
Pendinginan kaki dan sisi luar badan

Olah Tubuh - PEMERANAN (Teater)

Pemeran atau aktor adalah salah satu elemen pokok dalam pertunjukan teater. Sebelum memainkan karakter, pemeran harus menguasai tubunhya. Oleh karena itu, seorang pemeran harus ikhlas belajar demi pencapaian kualitas tubuh agar enak ditonton. Proses belajar penguasaan tubuh memerlukan waktu yang panjang dan secara kontinu serta tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Pemeran harus bersabar dan tidak boleh ada rasa jenuh dalam melakasanakannya.



Penampilan fisik pemeran dalam pentas berhubungan dengan penampilan watak, sikap, gesture, dan umur peran yang digambarkan. Hal ini juga sangat berhubungan dengan penampilan laku fisik yang digariskan pengarang, sutradara, dan tuntutan peran. Tampilan fisik seorang pemeran adalah tanggungjawab pribadi pemeran.

Seorang pemeran adalah seorang seniman yang memainkan peran yang digariskan oleh penulis naskah dan sutradara. Untuk mewujudkan laku peran di atas pentas, pemeran harus mengetahui, memahami, dan memfungsikan dengan baik alat dan sarana yang akan dipergunakan. Alat dan sarana tersebut adalah tubuh dan jiwanya sendiri. Tidak ubahnya seorang pelukis yang memahami fungsi dan manfaat dari kuas, palet, pensil, cat, kanvas, dan figura. Begitu juga dengan seorang pemeran, dia harus tahu betul cara berjalan yang gagah, jalannya orang yang sudah sangat tua, cara membungkuk, cara menengok, cara melambai, bagaimana posisi punggungnya, dan lain-lain. Oleh karena tubuh pemeran sangat dominan di atas pentas, maka penguasaan tubuh menjadi kewajiban.


Wiremesh murah hubungi Afandi - 081233336118. - Ada juga besi beton murah.

Jasa Pembuatan Pagar, Kanopi (+Renovasi)
WA ke 081233336118