KARAKTERISTIK PERAIH SURGA

Hikmah Kalam Ilahi #234
Bersama Al Ustadz S. Asadullah

KARAKTERISTIK PERAIH SURGA
(Bagian Kedelapan :  memelihara hukum-hukum Allah)

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

اَلتَّآئِبُوْنَ الْعٰبِدُوْنَ الْحٰمِدُوْنَ السَّآئِحُوْنَ الرّٰكِعُوْنَ السّٰجِدُوْنَ الْاٰمِرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَا لنَّاهُوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَا لْحٰــفِظُوْنَ لِحُدُوْدِ اللّٰهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

"Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, beribadah, memuji (Allah), mengembara (demi ilmu dan agama), rukuk, sujud, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman." (QS. At-Taubah 9: Ayat 112)

 MUQADDIMAH
Sikap konsisten dalam menetapi kewajiban dan menjauhi keharaman merupakan sikap yang harus dimiliki seorang peraih surga. Apa yang diucapkan atau dikerjakannya sejalan dengan apa yang ada dalam hati.  Karakteristik seorang peraih surga tidaklah seperti sikap orang munafik,  yang nampaknya beriman,  tapi sebenarnya hatinya kufur.

 HIKMAH
Pelajaran yang dapat dipahami dari ayat tersebut, diantaranya :

 1. Karakteristik peraih surga : memelihara hukum-hukum Allah

Frasa

وا لْحٰــفِظُوْنَ لِحُدُوْدِ اللّٰهِ 

Frasa ini menyebutkan karakter terakhir peraih surga,  yakni memelihara hukum-hukum Allah.

Yang dimaksud dengan frasa     حُدُوْدِ اللّٰهِ  adalah batas-batas yang ditetapkan oleh Allah 'Azza wa Jalla, apa yang harus dikerjakan orang-orang mukmin,  ataupun apa saja yang dilarang untuk mengerjakannya.

Seorang peraih surga senantiasa akan menjaga dan memeliharanya serta tidak akan melalaikannya apalagi meninggalkannya.

Imam al-Thabari menyatakan :

يعني: المؤدّون فرائض الله, المنتهون إلى أمره ونهيه, الذين لا يضيعون شيئًا ألزمهم العملَ به، ولا يرتكبون شيئًا نهاهم عن ارتكابه

"Yakni orang-orang yang mengerjakan kewajiban-kewajiban dari Allah Ta'ala,  maksimal dalam menunaikan perintah-Nya dan (menjauhi) larangan-Nya. Mereka tidak melalaikan sedikitpun apa yang wajib dikerjakan dan tidak mengerjakan apapun yang dilarang oleh-Nya."

Ibnu Abbas mengatakan :

القائمون بطاعة الله

"Yakni orang-orang yang tegak ddngan ketaatan kepada Allah Ta'ala".

Syaikh Abdurrahman al-Sa'dy menuturkan :

بتعلمهم حدود ما أنزل اللّه على رسوله، وما يدخل في الأوامر والنواهي والأحكام، وما لا يدخل، الملازمون لها فعلا وتركا

"Yakni,  dengan mempelajari batasan-batasan apa yang diturunkan Allah Ta'ala dan Rasul-Nya,  serta apa saja yang termasuk perintah-perintah,  larangan-larangan dan hukum-hukum-Nya. Dan juga apa saja yang tidak termasuk perintah-perintah,  larangan-larangan dan hukum-hukum-Nya. Mereka terikat padanya, baik dalam hal mengerjakannya maupun meninggalkannya".

Frasa ini menarik untuk kita perhatikan dan ambil pelajaran darinya. Seringkali kita termasuk orang rajin dalam ibadah dan  berbuat kebaikan, namun di waktu yang sama ia sering pula melanggar hukum-hukum Allah Ta'ala lainnya. Banyak orang yang rutin solat malam, namun maksiat tetap jalan.

Banyak orang  rajin umrah, bahkan tiap tahun dilaksanakan,  akan tetapi di saat yang sama  melupakan batas-batas ketentuan Allah Subhanahu wa ta'ala, mereka tetap makan hasil riba dan lainnya yang diharamkan Allah Subhanahu wa ta'ala.  Banyak orang yang menjalankan ketaatan, tapi  di waktu yang sama mengesampingkan hukum Allah 'Azza wa Jalla.

Sementara Allah Ta'ala dalam beberapa ayat menyebutkan dengan tegas :

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا

“Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.” (QS. Al-Baqarah:187)

Juga firman-Nya :

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang zhalim.” (QS. Al-Baqarah:229)

Intinya, kita wajib menjalankan ketaatan dan di waktu yang sama kita juga harus menjaga hukum-hukum Allah 'Azza wa Jalla.

Jangan sampai kita terlena dengan ibadah hingga menganggap enteng maksiat. Sering mengkhatamkan Al-Qur’an, rutin shalat tahajjud, sering umrah dan ziarah ke tempat-tempat suci tidak lantas memberi jalan kepada kita untuk meremehkan hukum Allah Ta'ala.

Karena itu,  sebagai orang mukmin, sekalipun  kita  menabung kebaikan dan ibadah, jangan pernah lalai dengan hukum Allah Ta'ala. Marilah kita jaga dan taati batas-batas yang telah Allah Ta'ala tentukan karena sebesar apapun amal kebaikan kita bisa terbakar habis dengan dosa-dosa yang diperbuat.

 2. Berita gembira bagi orang yang beriman

Frasa

وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْن

Frasa ini memberi penegasan bahwa orang-orang mukmin mendapat kabar gembira yakni surga dengan segala kenikmatan di dalamnya.

Imam ath-Thabari menyatakan :

وبشّر المصدِّقين بما وعدهم الله إذا هم وفَّوا الله بعهده، أنه مُوفٍّ لهم بما وعدهم من إدخالهم الجنة

"Berilah gambar gembira pada orang-orang yang membenarkan apa yang dijanjikan Allah Ta'ala ketika mereka memenuhi perjanjian itu. Allah Ta'ala pasti memenuhi apa yang dijanjikan-Nya pada mereka, yaknu memasukkan mereka ke surga".

Imam al-Hasan berkata :
الذين لم يغزوا

"...sekalipun mereka tidak berperang".

Artinya,  orang-orang yang beriman dengan karakteristik-karakteristik yang disebutkan pada ayat ini pasti akan masuk surga,  sekalipun mereka tidak berperang sebagaimana yang disebutkan dalam ayat sebelumnya  QS. Al-Taubah ayat 111.

 WalLahu a'lamu bish-Shawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar











.





.

.














Tampil di blog ini