Takut Menikah dengan yang Berbeda Harokah?

Menikah Beda Harokah, Bukan Penghambat Dakwah (Part 1)

Oleh: Ratu Ika Chairunnisa

Siapa sih pengemban dakwah yang bercita menikah dengan pasangan beda harokah? Sepertinya jika ditanya ke tiap jiwa, hampir semua ingin menikah dengan yang sama jalan juangnya. Alasannya? Karena menikah bukan sekadar masalah romantisme belaka. Tapi lebih besar dari itu. Tuk semakin kokohkan visi dakwah mulia. Menjadi pilar pengokoh peradaban Islam.

Namun nyatanya, jodoh itu perkara ketetapan Allah. Meski kita telah miliki kriteria nyaris sempurna. Walau pilihan telah kita jatuhkan. Tetap saja Allah yang Maha menentukan. Allah pula yang tahu mana yang layak mendampingi sisa usia kita tuk rajut samara, dan mana yang tidak.

Dalam masalah ini, aku betul-betul merasakannya. Betapa hal yang dulu sangat kukhawatirkan benar menjadi nyata. Aku selalu katakan dalam diri saat melihat ada rekan dakwah yang tumbang setelah menikah dengan yang berbeda harokah. "Aku nggak mau menikah sekadar menikah. Aku ingin membangun keluarga dakwah. Ingin menikahku tuk lebih menguatkan dakwah. Maka, tak ingin menikah dengan yang berbeda harokah jika yang terjadi adalah pelarangan dakwah." Ya, aku benar-benar takut menikah dengan yang berbeda harokah.

Sebenarnya, aku tak pernah diajarkan untuk menikah dengan yang seharokah saja. Islam pun tak ada aturan seperti itu. Selama ia baik agamanya, shalih. Yasudah tak masalah. Guru ngajiku pun bicara demikian. Nggak harus menikah itu dengan yang seharakah. Tapi apadaya. Fakta pelarangan dakwah oleh suami yang banyak terindera sukses membuatku benar-benar ngilu sampai relung jiwa. Apa jadinya aku tanpa dakwah? Tiada bahagia pastinya.

Namun, tetap saja Allah yang lebih berkuasa. Allah pula yang tahu mana yang terbaik untukku juga manusia lainnya. Akhirnya aku menikah dengan laki-laki yang berbeda harokah. Aku aktivis HTI dan suamiku ketua DPC PKS. Rasa takut berjejalan awalnya. Namun, saat tawakal menjelma sempurna. Bergejolaknya seluruh rasa berubah seketika. Berganti ketenangan berlandas iman. Aku yakin Allah kan beri yang memang kubutuhkan. Hingga rasa cinta pun akhirnya hadir saat akad terucap. Ketentraman dalam halal bersanding mesra.

Hingga saat ikatan sakral terajut, aku azzamkan dalam hati. Bahwa aku akan buktikan. Tak ada yang berhak menghentikan dakwahku, kecuali kematian. Menikah dengan suami yang berbeda harokah bukan penyebab melambatnya dakwah. Aku percaya Allah selalu sesuai dengan prasangka hambanya. Jika aku yakin bisa lewati semuanya. Pasti bisa.

Alhamdulillah. Semua yang dulu kutakutkan tak ada dalam kisah rumah tanggaku. Suamiku begitu mengerti dengan padatnya agenda dakwahku. Tak pernah ada pelarangan sama sekali terhadap aktivitas dakwah. Bahkan, aku terlihat lebih bebas dibanding dengan beberapa orang teman yang menikah dengan yang seharokah. Acara Mabit yang butuh menginap pun selalu mendapat ijinnya. Acara kajian, mengisi kajian, aksi, dan semuanya sama sekali tak pernah dilarang olehnya. Pencabutan badan hukum HTI pun tak membuat sikapnya berbeda.

Hingga saat aku hendak menulis ini, aku bertanya padanya. "Aa kenapa nggak ngelarang aku dakwah di HTI? "

Suamiku tercinta hanya berkata, "Aa nggak punya alasan untuk larang Ika dakwah."

Ah, biarlah orang lain meleleh dengan indahnya kata. Aku cukup dibuat luluh oleh besarnya pengertiannya padaku. Tak pernah menuntut banyak atas segala kurangku. Padahal rasanya aku masih sangat jauh dari kata ideal sebagai seorang istri.

Hmm... Tapi apa tak ada dukanya?  Gimana tipsnya untuk yang menikah dengan yg beda harokah supaya tak terjadi pelarangan dakwah?  Tunggu part 2 ya.. Ini baru prolog aja 😂

Tidak ada komentar:

Posting Komentar











.





.

.














Tampil di blog ini