Gadis Hujan


Rintik air guyuri sore hari, iramanya merdu tapi mengiris. Seorang gadis berbalut baju compang-camping bergegas menepi di sebuah toko, melindungi tubuhnya dari sergapan sang hujan. Digandengnya pula wanita tua renta itu untuk segera menepi. Lama berselang hujan tak kunjung reda, masih seru memainkan melodi kelamnya.
“Mak kedinginan?” tanya gadis itu tertatih suaranya gemetar kedinginan. Lalu wanita renta yang dipanggilnya ‘Mak’ hanya bisa mengangguk dengan gemetar yang tak kalah kuatnya karena kedinginan. Dengan sayang lalu gadis itu memeluk erat berharap agar tubuhnya dan Mak-nya menjadi sedikit hangat.
Semakin deras hujan menyapu jalanan, semakin beku pula udara terasa.
“Mak lapar?” gadis itu membuka tas plastik yang sudah usang didekapannya, mak hanya menjawab dengan anggukan. Sebuah roti basi terhidang di depan mereka beserta air minum botolan yang etah sudah dimasak atau belum. Itupun mereka tak peduli. Satu hal yang terpenting saat ini, dan dua belas jam kemudian perutnya terisi.
Rupanya hujan mulai lelah menderu. Kini yang ada hanyalah titik-titik air malas menyerbu bumi. Udara sudah sedikit hangat.
“Makanlah Mak, hanya ini yang kita punya”
“Terima kasih… anakku… kau sungguh setia pada Mak-mu ini. Kau lebih memilih pergi dengan Mak dari pada dengan bapakmu yang akan menjualmu seperti barang dagangan …”
“Mak…”
“Namun anakku Makmu ini sudah tak sanggup lagi menahan hidup, kau berhati-hatilah disini”
“Mak jangan tinggalkan aku” rengek gadis itu.
“Kutunggu kau di hadapan-Nya anakku…”
Dengan segala kepasrahan wanita tua renta itu menutup matanya lebih. Dihembuskannya nafasnya yang terakhir. Dan berakhir sudah penderitaannya selama ini.
Namun gadis itu masih terpaku menatap nanar maknya. Sebutir air mata meluncur jatuh dibahunya. Lengkaplah penderitaannya. Tak ada lagi yang bisa melindunginya seperti emak. Tak ada lagi yang bisa mempertahankan harga dirinya seperti emak.
Dengan terbata-bata ia mengucapkan “Aku… ikut … dengan Emak”
Sambil menggendong tubuh renta maknya ia berjalan menerpa gemericik hujan. Ia terus berjalan ketengah berharap akan ada mobil yang bahagia menyambut tubuhnya yang terlalu putus asa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar











.





.

.














Tampil di blog ini