Mengapa Laporan Produksi, PPIC, dan Accounting Berbeda? - Laporan Praktek

Dari pertanyaan tersebut, dengan logika, dengan mudah dapat kita jawab karena datanya berbeda.
Mengapa datanya berbeda?
Dapat saya katakan karena sumbernya tidak sama.
Dan yang menjadi persoalan sebenarnya adalah mengapa hal itu terjadi.

Data

Terjadinya perbedaan informasi karena sumbernya tidak sama memang masuk akal. Namun kejadian itu sangat disesalkan dan seharusnya tidak perlu terjadi.
Produksi menghitungnya berdasarkan perhitungan jumlah billet yang digunakan, jumlah kegagalan, dan hasil jadi setelah dipotong (yang memang terkadang tidak sama pada setiap billet). Padahal hasil hitungan itu tidak pasti 100%, apalagi jumlah pemakaian billet itu didapat dari hitungan manusia biasa yang harus memperhatikan proses produksi dari mulai pemotongan billet dengan nomor headnya, proses rolling dengan misrollnya, hingga cooling bed dengan proses pemotongannya.
Sementara PPIC menghitung dari bukti transfer hasil produksi kepada gudang yang karena tidak semua hasil produksi hari itu tidak dapat dibending dan dihitung, maka terpaksa melakukan perkiraan dari jumlah pemakaian billet.
Dan untuk accounting yang juga ikut membantu perhitungan secara langsung dari sejak proses produksi harus diucapkan terima kasih.

Analisa

Dan sekarang yang terpenting adalah bagaimana memecahkan masalah itu. Kesimpulan sementara yang dapat kita ambil adalah bahwa hal itu menunjukkan manajemen kita memang masih banyak memerlukan perbaikan terutama dalam sistem pelaporannya. Mungkin hal itu juga perlu kita maklumi karena memang kita semua masih dalam tahap belajar dan coba-coba.
Untuk dapat menyelesaikan persoalan ini, mungkin sebelumnya kita harus tahu apa saja sebenarnya yang dibutuhkan oleh perusahaan, pemasaran, accounting, gudang serta bagian yang lain dari proses produksi secara lengkap dan terperinci, dan mana data yang hanya perlu digunakan oleh bagian produksi untuk digunakan sebagai koreksi dan pelajaran di masa mendatang dan mana data yang hanya perlu untuk ditindak lanjuti pada saat itu juga.

Sintesa

Pemakaian bahan bakar, oksigen, dan billet, dilaporkan kepada gudang setiap hari untuk mengetahui jumlah persediaan barang-barang tersebut.
Kepada accounting dilaporkan pemakai bahan bakar, oksigen, dan billet, serta ditambah lagi pemakaian listrik selama produksi (listrik yang dipakai tidak untuk produksi dimasukkan dalam overhead pabrik), lama produksi (untuk mengetahui pemakaian mesin dan peralatan guna menghitung penyusutan, serta tenaga kerja langsung: diluar hari produksi dimasukkan dalam overhead pabrik). Laporan itu semua berguna untuk menghitung biaya produksi.
Hasil produksi meliputi tanggal produksi, ukuran, jumlah lonjor/bendel & berat, afalan: ukuran & jumlah & berat, misroll besar dan misroll kecil dalam jumlah dan berat, potongan crop shear dalam berat, dilaporkan kepada gudang untuk mengetahui persediaan barang jadi.
Hasil produksi yang meliputi tanggal produksi, ukuran, jumlah lonjor/bendel & berat, dilaporkan kepada accounting untuk mengetahui biaya packing dan menghitung harga pokok produksi setelah digabungkan dengan biaya produksi, serta perhitungan keuangan lainnya seperti laba/rugi, pajak (kalau kita sudah untung), kartu biaya dan lain-lain. Harga pokok produksi itu sangat dibutuhkan bagian pemasaran untuk menentukan harga setelah ditautkan dengan harga pasar. Sedangkan afalan, misroll, dan potongan crop shear bagi accounting dianggap susut yang bila dapat dijual dimasukkan dalam pendapatan lain-lain.
Menurut saya, asal mula munculnya permasalahan dalam laporan hasil produksi adalah karena hasil produksi dalam satu hari tidak dapat habis dibending dan dihitung pada hari itu juga. Sedangkan accounting menginginkan laporan langsung hari itu yang membuat bagian hasil jadi melakukan perhitungan perkiraan yang kemudian diketahui kurang akurat. Ditambah lagi accounting yang ikut melakukan perkiraan perhitungan secara langsung dari proses produksi yang juga tidak seratus persen tepat. Perkiraan perhitungan secara sendiri-sendiri itu yang membuat adanya data yang tidak sama.

Gagasan

Agar data itu sama, sumbernya harus sama. Dari mana? Karena untuk mengetahui hasil jadi, tentu dari bagian itu, yaitu bagian packing dan bending yang kemudian kita dapat saling mengoreksi di tempat itu. Di bagian bending dan packing itulah hasil produksi dapat kita hitung dengan pasti.
Untuk adanya hasil produksi yang belum dapat langsung dibending, biarkan hal itu terjadi (sambil bagaimana nanti kita mengatasi hal itu, mungkin dengan menambah jumlah bending | apalagi bila misalnya bending rusak), tak perlu kita menunggu. Hanya saja kita harus mengumpulkan pada tempat yang berbeda untuk tanggal produksi yang berbeda dan kita beri tanda.
Bending terus dilakukan dan laporan transfer hasil produksi (ukuran, jumlah lonjor/ikat/bendel & berat) ke gudang terus diberikan hanya untuk hasil bending pada hari itu saja walau didalamnya ada hasil produksi pada hari sebelumnya. Namun dalam keterangan dicantumkan bahwa bendel ini diproduksi tanggal sekian. Apabila dalam satu bendel ada bagian yang diproduksi dalam hari yang berbeda, diberi keterangan sekian lonjor produksi tanggal sekian, dan berapa lonjor diproduksi tanggal ini. Jadi pada tanggal 5 misalnya, dapat membending produksi tanggal 5 dan 4, atau bahkan tangga 2 dan 1.
Laporan hasil produksi harian dapat dibuat setelah semua hasil produksi pada hari itu telah habis dibending. Jumlahnya berdasarkan laporan transfer hasil produksi yang memiliki catatan diproduksi pada tanggal itu. Jadi selama barang belum dibending, belum dapat dikatakan barang jadi, atau disebut barang dalam proses, walau kita mencatatnya diproduksi pada tanggal saat barang itu diproses di rolling.
Apabila kita menginginkan perkiraan hasil jadi pada hari itu juga, maka kita dapat melakukan perhitungan dari pemakaian billet, dikurangi misroll, dikalikan hasil jadi (lonjor) per billet (hasil lonjor per billet dapat diketahui dari perhitungan dan koreksi langsung di packing). Dan hal itu kedudukannya tetap sebagai hasil perkiraan.
Perhitungan pemakaian billet hanya dilakukan oleh sensor elektronik, petugas hanya mengoreksinya. Petugas dapat melakukan pekerjaan lain yang lebih berarti dalam proses produksi, misalnya melakukan koreksi panjang material di cooling bed berdasarkan perhitungan, agar apabila ada kejanggalan dapat langsung dilaporkan ke bagian finishing untuk dikoreksi penampang hasil produksi, dan ke bagian listrik untuk mengecek setting potongan, serta melakukan pemeriksaan pada ukuran hasil jadi, panjang potongan proses pemotongan dan pekerjaan koreksi lainnya. Petugas ini juga sewaktu-waktu perlu memperhatikan proses packing untuk memastikan jumlah tiap ikat dan tiap bendel sesuai dengan jumlah yang diinginkan. Selain dia juga harus mengumpulkan laporan-laporan yang lain.

Thank to Duta Pulsa - . Mode OK Rek | . Ok Rek | .Testimoni | .Standar Ukuran |

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

busana muslim busana muslim Blus terbaru
Memuat...

Komentar Teman-teman

dari GMP: Setting AMDK dan Filter

... Peluang Usaha - Program Butik Online Tanpa Modal

Program Butik Online tanpa modal adalah program terbaru dari Mode Ok-Rek dengan misi untuk mendukung penjual/reseller ok-rek semakin kreatif dalam mengolah pasarnya, dan memberikan pencerahan pada dunia fashion .... Selengkapnya >>>
Persewaan Alat Pesta, Tenda /terop, meja kursi, alat makan di Sidoarjo dan Surabaya.

.


.
.
.














Wiremesh murah hubungi Afandi
0878 525 808 85; 082140 031 207.
Ada juga besi beton murah.

Desain dan Produksi Mode dan Busana

Tampil di blog ini